Kala Harga Emas Gagal Dirayakan saat Lebaran

Kala Harga Emas Gagal Dirayakan saat Lebaran

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Minggu, 22 Mar 2026 10:30 WIB
Pramuniaga menata emas batangan Galeri24 di salah satu toko emas perhiasan di Cikini, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Foto: Ari Saputra/detikFoto
Jakarta -

Harga emas yang sempat reli sepanjang tahun lalu sempat menimbulkan euforia pada masyarakat. Harganya yang bergerak cukup tajam membuat orang berlomba-lomba mengoleksi logam mulia.

Tak jarang antrean pembelian logam mulia terlihat di sejumlah gerai pembelian emas. Harganya yang digadang-gadang akan menembus rekor baru lagi pada saat Lebaran 2026 bikin orang tak mau ketinggalan mengoleksinya.

Namun harga emas hari ini justru jauh meninggalkan prediksinya. Mendekati Lebaran, harga emas malah terus terkoreksi hingga lengser dari level Rp 3 juta/gram.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya melihat sampai Lebaran kemungkinan besar Rp 3,2 juta/gram. Untuk mencapai Rp 3,2 juta/gram sangat mudah sekali karena harga emas dunia ada kemungkinan dalam hitungan hari akan menyentuh US$ 5.100 per troy ounce." kata Pengamat Komoditas, Ibrahim Assuaibikepada detikcom pada Januari lalu.

Harga emas memang sempat tercatat naik 64% pada tahun 2025 dan mencatatkan tahun terbaiknya sejak 1979. Logam mulia ini mencapai harga U$ 5.000 per troy ounce untuk pertama kalinya pada bulan Januari.

ADVERTISEMENT

Tapi pada Jumat kemarin, harga emas turun di bawah U$ 4.500 per troy ounce, menghapus kenaikan yang terjadi selama dua bulan terakhir.

Koreksi harga emas hari ini bahkan tercatat sebagai penurunan mingguan terburuk dalam puluhan tahun. Hal ini terjadi bersamaan dengan pasar keuangan global yang sedang bergejolak, saham dan obligasi di Amerika Serikat yang sedang melemah, dan harga minyak yang melonjak.

Padahal konflik geopolitik yang saat ini tengah terjadi biasanya membuat emas laris manis lantaran dianggap sebagai aset safe haven alias pelindung nilai. Namun kali ini situasinya berbeda karena ternyata investor lebih khawatir pada inflasi dan arah kebijakan suku bunga bank sentral.

Mengutip CNN, Minggu (22/3/2026), perang yang melibatkan Iran membuat harga energi saat ini meningkat tajam. Hal ini menimbulkan kekhawatiran inflasi akan tetap tinggi dan membuat bank sentral di berbagai negara harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Ketidakpastian berapa lama konflik akan berlangsung juga membuat investor lebih berhati-hati dan menekan pasar saham global. Imbal hasil obligasi pemerintah AS pun ikut naik karena investor menjual obligasi dan menyesuaikan ekspektasi inflasi.

Nah, kondisi suku bunga yang tinggi ini biasanya kurang menguntungkan bagi emas, karena emas tidak memberikan bunga atau pendapatan seperti obligasi atau deposito. Akibatnya, sebagian investor memilih memindahkan dana ke aset yang memberikan imbal hasil.

"Momentum kenaikan telah memudar," kata para ahli strategi di bank Belanda ING dalam sebuah catatan.

"Beberapa investor menjual emas untuk mendapatkan uang tunai atau menyeimbangkan kembali portofolio mereka." lanjutnya.

Pada akhir pekan ini, harga emas tercatat turun sekitar 2% dalam satu hari dan total penurunannya selama seminggu mencapai lebih dari 10%, menjadikannya kinerja mingguan terburuk sejak awal 1980-an. Di saat yang sama, harga minyak dunia naik hingga di atas US$ 112 per barel, memperkuat kekhawatiran akan inflasi global.

Analis menilai pasar keuangan masih berusaha menilai dampak konflik Timur Tengah terhadap harga minyak, inflasi, dan kebijakan suku bunga ke depan. Selama ketidakpastian ini belum mereda, volatilitas di pasar emas dan saham kemungkinan akan tetap tinggi.

(eds/eds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads