Konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah bakal membuat kinerja ekspor Indonesia jadi loyo. Menteri Perdagangan Budi Santoso memprediksi pertumbuhan ekspor tahun ini bisa anjlok dari tahun lalu apabila perang yang terjadi tak kunjung reda.
Sejauh ini, nilai ekspor Indonesia pada tahun 2025 secara penuh mencapai US$ 282,91 miliar atau naik 6,15% dibandingkan tahun 2024. Pertumbuhan sebesar itu terancam tidak terjadi lagi apabila konflik terus memanas antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
"Tentu kalau ini (perang) nggak selesai, misalnya, nggak selesai, terus-menerus ya bisa dampaknya ke ekspor kita. Paling tidak ekspor kita bisa pertumbuhannya bisa lebih rendah daripada tahun lalu. Tapi mudah-mudahan cepat selesai," ujar Budi saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (27/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Budi menjelaskan sampai saat ini sebenarnya permintaan barang dari negara-negara Timur Tengah masih stabil. Namun, kendala utama muncul dari segi biaya logistik. Harga minyak yang bergejolak serta penutupan beberapa pelabuhan memaksa kapal pengangkut mencari rute alternatif yang lebih jauh.
"Nah, kemarin kita komunikasi juga dengan eksportir. Jadi menurut mereka teman-teman ini masih bisa memenuhi permintaan sebenarnya. Ya, cuman itu tadi, cost-nya mungkin lebih tinggi untuk biaya transportasinya," tambah Budi.
Budi memaparkan nilai ekspor Indonesia ke Timur Tengah pada 2025 mencapai US$ 9,87 miliar atau pangsa pasarnya 3,49% dari total ekspor dunia. Dari total tersebut, Uni Emirat Arab (UAE) menjadi tujuan terbesar dengan porsi 40% berkat adanya perjanjian kerja sama IUAE-CEPA. Disusul oleh Arab Saudi sebesar 29%, dan Iran sekitar 2,5% atau setara US$ 250 juta.
Menanggapi situasi ini, Budi telah menyiapkan sejumlah strategi. Pertama, pemerintah bekerja sama dengan Dewan Pengguna Jasa Angkut (Dipalindo) untuk membenahi regulasi logistik agar lebih efisien dan kompetitif di tengah situasi sulit.
Kedua, pemerintah akan mendorong diversifikasi pasar. Pasar ekspor Indonesia kini difokuskan ke Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika Latin melalui skema business matching.
Ketiga, pemerintah juga akan memperhatikan kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO) dan batu bara. Harga komoditas yang meningkat dapat menjadi penopang nilai kinerja ekspor Indonesia dalam segi.
"Harga komoditas untuk CPO tahun lalu itu kan turun sekitar 16% ya harga ya harga komoditas. Kemudian batu bara turun 19% kurang lebih. Nah, sekarang harga komoditas keduanya tahun ini kan mulai naik. Artinya kalau naik berarti ya nilai ekspor kita ya pasti meningkat, pasti meningkatnya," pungkas Budi menjelaskan.
(rea/hal)









































