IMF: Ekonomi Dunia Melemah 2008

IMF: Ekonomi Dunia Melemah 2008

- detikFinance
Kamis, 18 Okt 2007 09:38 WIB
Washington - Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia akan melemah, namun tetap solid pada angka 4,8%. Angka tersebut lebih rendah dari perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2007 sebesar 5,2% dan 5,4% pada tahun 2006.Gejolak di pasar finansial akibat krisis suprime mortgage AS menghambat prospek ekonomi dunia pada tahun 2008.Demikian World Economic Outlook (WEO) yang dirilis IMF dan dikutip detikFinance, Kamis (18/10/2007).Negara-negara emerging markets menjadi mesin utama penggerak perekonomian dunia. Dan untuk pertama kalinya, China dan India membuat kontribusi yang terbesar bagi perekonomian dunia.Pertumbuhan ekonomi AS pada 2008 mendapat revisi paling besar. Termasuk juga dari negara-negara yang kondisi finansial dan perdagangannya mendapat 'muntahan' terbesar dari krisis di AS tersebut. Di AS, pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap di kisaran 1,9% pada tahun 2008 atau sama dengan tahun 2007. Angka tersebut turun dibandingkan pertumbuhan tahun 2006 sebesar 2,9%. Dinegara-negara emerging market, perekonomian justru diperkirakan mencatat ekspansi yang sangat kuat. China diperkirakan masih mencatat pertumbuhan yang kuat sekitar 10%, meski turun dibandingkan tahun 2007 yang diperkirakan sebesar 11,5%.Demikian pula India diharapkan tumbuh hingga 8,4%, turun tipis dibandingkan perkiraan pertumbuhan tahun 2007 sebesar 8,9%. Sementara Rusia tumbuh hingga 8%.Ketiga negara ini memberi kontribusi sekitar 1,5% dari total pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun lalu. Proyeksi IMF kali ini didasarkan pada asumsi likuiditas pasar akan pulih secara bertahap dalam beberapa bulan kedepan. Namun masih ada kemungkinan gejolak di pasar finansial ini akan memberi efek yang lebih dalam bagi ketersediaan kredit, dan dampak yang lebih luas pada kondisi makro ekonomi.Negara-negara emerging market juga akan menghadapi risiko dari gejolak pasar finansial yang bisa saja mengganggu aliran modal masuk serta memicu masalah di pasar domestik. IMF juga mencemaskan masalah tekanan inflasi. Para pembuat kebijakan disarankan membuat kebijakan yang lebih ketat untuk menghadapinya. Selain itu, IMF juga menyoroti soal pasar minyak dunia yang masih saja ketat dengan kapasitas yang masih saja terbatas. Guncangan masalah stok dan kondisi geopolitik bisa saja memicu lonjakan harga dan berdampak pada tingginya inflasi. (qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads