Lebaran, Omset Pasar Tradisional Malah Turun
Kamis, 18 Okt 2007 12:18 WIB
Jakarta -
Lebaran biasanya menjadi momen para pedagang pasar meraup omset sebesar-besarnya. Namun tidak halnya dengan pedagang pasar tradisional di tahun ini. Rata-rata omset mereka turun hingga 15 persen dibanding lebaran tahun lalu.Omset mereka terus turun jika dibanding dengan era sebelum menjamurnya hipermarket. Namun seiring menjamurnya hipermarket, masyarakat cenderung memilih berbelanja ke pasar. Kondisi itu diperparah dengan berbagai macam isu seperti isu daging gelonggongan dan ayam berformalin yang membuat masyarakat semakin ngeri berbelanja ke pasar."Omset saat lebaran terus turun, duitnya dikirim ke mall dan hipermarket, tahun ini turun 15 persen dibanding tahun lalu. Biasanya bisa jual ayam 100 ekor sekarang 80 ekor saja sudah syukur " keluh Sekjen Asosiasi Pedagang pasar Tradisional seIndonesia (APPSI) Ngadiran dalam perbincangannya dengan detikFinance, Jakarta, Kamis (18/10/2007).Menurutnya, penurunan omset terjadi di pasar tradisional yang terletak di kota besar atau kota yang telah dijamah hipermarket. Tapi seperti di wilayah Maluku dan NTB yang belum ada hipermarket masih tetap eksis menjadi tujuan berbelanja."Padahal bayar di hipermarket mesti antre, tapi karena diiming-iming harga sirup murah akhirnya pembeli membeli semua keperluannya di sana meskipun produk yang lain harganya lebih mahal, tapi pembeli tak merasa," ungkap pria yang sehari-hari berdagang sembako di pasar Fatmawati itu.Harga Sembako Normal"Harga di pasar sudah berangsur normal, harga sudah sama seperti dua minggu sebelum lebaran .Turunnya sejak kemarin," katanya.Ngadiran mengungkapkan, hal ini disebabkan truk dan pengangkut sudah bebas melenggang setelah H+4 lebaran sehingga pasokan ke pasar lancar.
(arn/qom)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































