Harga Minyak Melonjak, Dunia Usaha Desak Penurunan PPN BBM

Harga Minyak Melonjak, Dunia Usaha Desak Penurunan PPN BBM

- detikFinance
Jumat, 19 Okt 2007 16:35 WIB
Jakarta - Kalangan industri kembali mendesak penurunan pajak pertambahan nilai (PPN) BBM industri setelah harga minyak mentah dunia melambung hingga level US$ 90 per barel. Penurunan PPN BBM demi meringankan biaya produksi. "Semua pelaku industri pasti mencemaskan situasi yang sudah mengkhawatirkan ini. Sejauh ini permintaan penghapusan PPN BBM tidak mendapat tanggapan positif, kami meminta setidaknya ada perhatian pemerintah untuk mempertimbangkan penurunan PPN," ungkap Ketua GAPMMI bidang regulasi Franky Sibarani dalam perbincangannya dengan detikFinance, Jakarta, Jumat (19/10/2007).Sebelumnya pada Juni lalu, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) pernah mengutarakan permintaannya kepada pemerintah untuk penghapusan PPN BBM. Pada saat itu, harga minyak dunia masih berkisar US$ 65-67 perbarel. Namun ketika itu permintaan tersebut diacuhkan pemerintah karena penurunan PPN BBM dianggap bukan sesuatu yang mendesak. Menurut Franky, pihaknya akan kembali safari berkeliling ke tiap Departemen untuk meloloskan permintaan tersebut."Langkah pertama ke Depperin karena kenaikan harga minyak saat ini kita sudah tidak kuat, ditengah menurunnya daya beli masyarakat. Permintaan ini sudah mendesak dan harus ada intervensi pemerintah agar industri dalam negeri tetap punya daya saing," tuturnya.Franky mengungkapkan, penurunan PPN BBM mendesak karena biaya energi merupakan 15-20 persen dari biaya produksi. Selain itu kenaikan harga minyak dunia juga mempengaruhi kenaikan harga bahan baku.Mengenai konversi energi dari BBM ke gas yang digembor-gemborkan pemerintah, menurut Franky tidak banyak memberi pengaruh. Hanya segelintir industri yang mau melakukan konversi mengingat langkah itu membutuhkan biaya yang besar."Baru 30 persen yang sanggup melakukan konversi karena merupakan perusahaan besar. Sisanya tetap menggunakan BBM yang rata-rata industri menengah dan kecil," ujarnya. (arn/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads