Bangladesh resmi menerapkan serangkaian langkah penghematan energi imbas perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Terbaru, Bangladesh memangkas jam kerja Pegawai Negeri Sipil (PNS) hingga jam operasional toko dan pasar.
Dikutip dari Reuters, Sabtu (4/4/2026), langkah penghematan yang disepakati kabinet pada Kamis (2/4) kemarin bertujuan untuk menstabilkan ketersediaan energi di Bangladesh yang sangat bergantung pada impor bahan bakar, terutama dari Timur Tengah.
Berdasarkan peraturan baru tersebut, kantor-kantor pemerintah hanya beroperasi dari pukul 9 pagi hingga 4 sore. Sementara untuk pasar dan pusat perbelanjaan harus tutup pada pukul 6 sore untuk mengurangi penggunaan listrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah juga memerintahkan pemotongan pengeluaran publik yang tidak penting dan mendesak seperti pengurangan konsumsi energi di sektor industri, misalnya dengan pembatasan penggunaan lampu yang berlebihan.
Masih belum cukup, Kementerian Pendidikan Bangladesh akan mengeluarkan pedoman sistem belajar-mengajar baru dengan opsi seperti penyesuaian jadwal dan peralihan ke kelas daring yang sedang dipertimbangkan.
"Pihak berwenang juga akan mengizinkan impor bus listrik bebas bea untuk sekolah, dengan insentif bagi sekolah yang berpartisipasi," tulis Reuters.
Lebih lanjut, Bangladesh juga membatasi pembelian bahan bakar untuk mengurangi kelangkaan stok. Kemudian mereka juga telah mempersingkat jam operasional SPBU di tengah maraknya panic buying, penimbunan, dan antrean panjang.
"Pihak berwenang telah memperingatkan bahwa pasokan tetap terbatas, meskipun ada sedikit peningkatan selama hari libur besar," terang Reuters lagi.
(ada/ara)










































