Krisis Kredit AS Ikut Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Sabtu, 20 Okt 2007 15:07 WIB
Washington -
Krisis subprime mortgage di AS ikut menyumbang lonjakan harga minyak mentah dunia. Gejolak harga minyak akhir-akhir ini merupakan refleksi ketidakpastian perekonomian berkaitan dengan gejolak pasar finansial.Gejolak di pasar finansial yang dipicu krisis subprime mortgage itu menghadang outlook perekonomian AS dan juga dunia, dan pada akhirnya pada permintaan minyak.Hal itu disampaikan oleh Mohammad Alipour-Jeddi, Head Petroleum Market Analysis Department OPEC seperti dilansir dari IMF, Sabtu (20/10/2007).Ia menjelaskan, harga minyak mentah berdasarkan 'OPEC Reference Basket' telah naik menjadi US$ 73,67 miliar per barel pada Agustus. Harga sempat turun hingga 6 dolar pada dua pertama Agustus, sebelum akhirnya naik lagi menjadi US$ 77,46 per barel pada 12 Oktober.Menurutnya, faktor utama yang memberi kontribusi pada gejolak harga minyak adalah terus berlanjutnya ketidakpastian masalah pasokan BBM akibat gangguan sejumlah kilang AS. Gangguan itu menyebabkan cadangan minyak AS terus turun. Selain itu, lanjut Jeddi, perkembangan masalah geopolitik dan berbagai badai Atlantik turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia, karena semakin meningkatnya aktivitas spekulasi di pasar komoditas berjangka. Pelemahan dolar juga ikut melambungkan harga minyak mentah, mendorong investasi baru di pasar berjangka dari investor non-dolar."Sementara ketidakpastian perekonomian telah memberi dampak pada outlook permintaan minyak dunia, dengan potensi revisi pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa kuartal kedepan," jelasnya.Permintaan minyak dunia diperkirakan naik hingga 1,3 juta barel per hari pada 2007, dan angka kenaikan yang sama diperkirakan terjadi pada 2008. Sektor transportasi dan industri merupakan penyedot utama kenaikan permintaan itu. Negara non-OECD diperkirakan mengambil porsi hingga 80% dari permintaan minyak dunia itu, terutama dari Asia, atau secara spesifik adalah China, India dan Timur Tengah. Sementara permintaah minyak dari OECD terutama berasal dari Amerika Utara.Suplai dari negara non-OPEC pun terus mengalami revisi penurunan dari proyeksi awal. Salah satu kunci revisi penurunan itu adalah tertunda-tundanya proyek sehubungan dengan tingginya biaya jasa dan kompleksitas proyek-proyek baru. Dari proyeksi suplai non-OPEC sebesar 1,1 juta barel per barel pada 2007, maka untuk 2008 diperkirakan pertumbuhannya hanya 0,8 juta barel per hari. Ditengah kurangnya suplai dari negara non-OPEC, cadangan minyak mentah dunia masih pada level yang aman. Berdasarkan data per akhir Agustus, total cadangan minyak komersil OECD adalah 68 juta barel diatas rata-rata dalam 5 tahun. OPEC pada September lalu telah memutuskan menambah kuota produksi sebesar 500 juta barel per hari, efektif mulai 1 November. OPEC akan kembali menggelar pertemuan di Abu Dhabi pada 5 Desember untuk melakukan review aas situasi pasar.Dan pada November mendatang di Arab Saudi, akan kembali digelar 'Third Summit of Heads of State and Government of OPEC. Pertemuan itu diharapkan akan memberi petunjuk jangka panjang untuk memperkuat peran OPEC.
(qom/qom)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































