Harga emas logam mulia diprediksi balik ke level Rp 3 juta per gram pada pekan depan setelah menutup pekan ini di level Rp 2.857.000 per gram pada Sabtu (4/4). Pendorong kenaikan harga disebabkan perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel lawan Iran yang masih terus memanas.
Pengamat Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan harga emas global berpeluang mengalami resistance hingga level US$ 5.080 per troy ons. Pada level itu, harga emas logam mulia domestik berpotensi menembus Rp 3 juta per gram lagi.
"Jadi di minggu depan kemungkinan besar pecah telur logam mulia di harga Rp 3 juta," kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (5/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibrahim menyebut kenaikan itu tidak terlepas dari faktor eksternal terutama pergerakan nilai tukar rupiah yang diperkirakan melemah hingga Rp 17.120 per dolar AS. Pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan dolar AS di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta lonjakan harga minyak dunia.
Kondisi tersebut mendorong kebutuhan dolar AS di Indonesia meningkat terutama untuk impor minyak. Tekanan ini pada akhirnya memperlemah rupiah dan turut mengerek harga emas domestik.
"Karena perang di Timur Tengah, dolarnya menguat, harga minyak menguat, ini yang membuat rupiah mengalami pelemahan," jelas Ibrahim.
Meski demikian, Ibrahim juga melihat adanya peluang koreksi harga emas hingga level US$ 4.358 per troy ons. Jika itu terjadi, harga emas logam mulia diperkirakan berada di bawah Rp 2,8 juta per gram.
"Jadi kemungkinan besar dalam minggu depan kalau seandainya terjadi koreksi terhadap harga emas, kemungkinan di bawah Rp 2,8 juta per gram, tepatnya di Rp 2.780.000 per gram," ungkap Ibrahim.
(acd/acd)










































