BI Belum Hitung Dampak Harga Minyak US$ 90 per Barel
Senin, 22 Okt 2007 10:55 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengaku belum melakukan penghitungan dan dampak harga minyak di level US$ 90 per barel. BI baru mengkaji harga minyak tertinggi di level US$ 80-an per barel.Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aslim Tadjuddin mengatakan, selama ini BI baru membuat kalkulasi jika harga minyak di level US$ 80-an per barel. Hasilnya untuk neraca pembayaran masih positif.Tapi di neraca minyaknya negatif karena impor BBM Indonesia cukup banyak. Sebaliknya di neraca gas menunjukkan positif karena harga gas itu dikaitkan dengan harga minyak over all dan current account."Neraca migas masih positif, dengan kenaikkan harga di US$ 80-an sudah kita buat exercise-nya. Untuk angka US$ 90-an mungkin kita lihat dulu exercise-nya berapa di situ," kata Aslim disela-sela acara halal bihalal di gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (22/10/2007).Aslim menjelaskan, jika dari neraca pembayaran positif berarti akan menambah surplus dari neraca pembayaran. "Minimal current account kita surplus meningkat dengan harga US$ 80-an itu, tapi untuk US$ 90 kita belum. Nanti kita exercise dulu. Kalau positif mungkin berkurang, ini yang belum kita lakukan," katanya.
(ir/qom)











































