Kondisi Ekonomi Indonesia di Tengah Perang AS & Israel Vs Iran

Kondisi Ekonomi Indonesia di Tengah Perang AS & Israel Vs Iran

Heri Purnomo - detikFinance
Selasa, 07 Apr 2026 23:00 WIB
Lanskap gedung pencakar langit di Jakarta, Rabu (6/8/2025). Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 tembus 5,12%. Angka ini Lebih tinggi dibandingkan triwulan I yang sebesar 4,87%.
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Jakarta -

Konflik yang terjadi di Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran benar-benar menguji ketahanan ekonomi Indonesia. Salah satu dari empat guncangan yang menekan Indonesia adalah lonjakan harga minyak dunia.

Apalagi, Indonesia adalah negara importir minyak dan pemerintah memilih tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

"Ada 4 guncangan ekonomi dunia yang berpengaruh saat ini yakni kesatu, Eskalasi timur tengah diperkirakan kenaikan US$ 10 per barel telah menekan Current Account Deficit (CAD) Indonesia senilai US$ 3-4 miliar yang langsung terasa di neraca pembayaran," ujar Ekonom Ariyo DP Irhamna dalam Forum Guru Besar dan Doktor Insan Cita yang mengangkat tema Resiliensi Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global, lewat keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedua, tidak ada kepastian kebijakan tarif Amerika Serikat kepada Indonesia. Dari semula 32% turun menjadi 19% dan saat ini belum ada kepastian mekanismenya.

Ketiga, masih maraknya produk asal China yang membanjiri pasar Indonesia. Hal ini terlihat produk baja, elektronik hingga produk tekstil, meskipun pemerintah berupaya menahan arus tersebut.

ADVERTISEMENT

"Keempat, ada decoupling technology antara China dan AS, dan kita terjepit, karena 34% impor mesin Indonesia dari China, juga 25% total impor kita dari china tapi sekira US$ 12-13 miliar ekspor kita ke AS," katanya.

Sementara itu, mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah menyoroti dampak perang di timur tengah terhadap sektor perdagangan dan sektor keuangan Indonesia.

Menurut Halim, saat ini Indonesia mengalami capital out flow yang cukup serius.

"Capital out flow Indonesia saat ini merupakan yang terburuk dalam 20 tahun. Sejak era Prabowo, perlahan mereka yang memiliki uang (domestic ataupun orang asing) melarikan dananya ke luar negeri dan belum kembali sampai saat ini," terang Halim.

"Jadi perang Iran vs AS-Israel sebenarnya menambah saja risiko keuangan kita yang telah ada," tambahnya.

Ia juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cenderung stagnan di kisaran 5% selama 15 tahun ini. Kondisi ini kata Halim bisa menimbulkan kredibilitas dari pertumbuhan itu sendiri.

"Karena jarang sekali suatu negara yang stagnan growth nya bisa pukul rata di 5%/tahun. Hal itu menimbulkan keraguan kredibilitas dari angka growth seperti itu," ujarnya.

(hrp/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads