Asumsi Harga Minyak APBN 2007 Bisa Jadi US$ 70-71/barel

Asumsi Harga Minyak APBN 2007 Bisa Jadi US$ 70-71/barel

- detikFinance
Senin, 22 Okt 2007 17:23 WIB
Jakarta - Harga minyak mentah dunia terus melambung menjauh dari asumsi dalam APBN 2007. Jika harga minyak mentah terus naik, maka asumsi dalam APBN seharusnya sudah mencapai US$ 70-71 per barel, bukan lagi US$ 60 per barel.Hal tersebut disampaikan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro usai dipanggil oleh Presiden SBY di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (20/10/2007). Menteri lain yang juga dipanggil oleh SBY terkait masalah kenaikan harga minyak dunia ini adalah Menko Perekonomian Boediono.Purnomo menjelaskan, sejauh ini untuk asumsi produksi minyak atau lifting dalam APBN 2007 masih aman yakni sebesar 950 ribu barel per hari. Namun untuk harga minyak, menurut Purnomo, kemungkinan ada perubahan. Ia menjelaskan, per 19 Oktober 2007, harga minyak Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) adalah US$ 66 per barel.Dan jika harga minyak di pasar New York selama November-Desember terus bercokol di level US$ 90 per barel, maka ICP menjadi sekitar US$ 85 per barel pada periode itu."Rata-rata asumsi APBN US$ 60 per barel. Kalau minyak harganya naik, maka akan menjadi sekitar US$ 70-71 per barel. Akan ada perbedaan asumsi APBN dan realitas sekitar US$ 10 per barel," tambah Purnomo. Purnomo meminta agar patokan harga jangan dilihat di pasar New York, yang memang lebih tinggi dari patokan harga di Indonesia."Di New York US$ 90 yang memang tinggi, tapi pasar OPEC dan ICP masih US$ 84-85 per barel. Jangan terpaku pada Amerika Utara karena stoknya lagi kecil karena melemahnya nilai dolar dan masalah tornado di teluk meksiko. Itu tidak harus merepresentasikan pasar di tempat lain di dunia ini," urainya. Sementara Boediono menjelaskan, yang patut diwaspadai dari ledakan harga minyak kali ini adalah kemungkinan meningkatnya subsidi BBM dan juga dampak terhadap industri."Untuk APBN 2007, kita bisa kelola cukup baik. Untuk 2008, saya kira bisa tunggu perkembangan harga minyak dan ekonomi global, apa perlu adjustment APBNP. Tapi saya optimistis pertumbuhan ekonomi 2008 6,8% bisa kita capai," katanya. Boediono menambahkan, untuk dampak negatif tidak langsung dari kenaikan harga minyak dunia ini adalah adanya dengan perubahan pertumbuhan ekonomi global yang mempengaruhi ekspor Indonesia. "Yang langsung, dampak cost energi industri yang mengurangi profit dan daya saing. Kenaikan harga dalam negeri terjadi bila harga minyak naik cukup tinggi. Kita mencoba kelola dampak ini. Kalau dampak moneternya belum ada," pungkas Boediono. (qom/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads