ICP Naik 1 Dolar AS, RI Defisit Rp 430 Miliar

ICP Naik 1 Dolar AS, RI Defisit Rp 430 Miliar

- detikFinance
Senin, 22 Okt 2007 19:37 WIB
Jakarta - Setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP/indonesia crude price) sebesar US$ 1 per barel, maka Indonesia akan defisit Rp 0,43 triliun. Namun perlu dicatat, perubahan ICP tidak sedrastis harga minyak dunia. Selisih antara keduanya sekitar US$ 4-5. Dari data Ditjen Migas, setiap kenaikan ICP sebesar US$ 1/barel, maka penerimaan negara bertambah Rp 3,34 triliun. Setelah dikurangi subsidi BBM, surplus penerimaan negara berkurang menjadi Rp 0,19 triliun. Bahkan setelah dikurangi subsidi listrik, penerimaan negara justru jadi defisit Rp 0,43 triliun. "Jadi kalau perbandingannya minyak dengan minyak kita masih surplus. Tapi kalau dengan listrik memang agak kurang," kata Dirjen Migas Luluk Sumiarso. Ia menjelaskannya disela-sela jumpa pers tentang harga minyak di Departemen ESDM, Jakarta, Senin (22/10/2007). Sementara itu, PLN memprediksi subsidi listriknya tahun ini akan membengkak seiring pertumbuhan penjualannya yang melebihi target. Dari target awal sebesar 6% lebih sedikit, realisasi pertumbuhan penjualan Agustus 2006-Agustus 2007 sudah mencapai 8,2%. "Karena pertumbuhan naik, kebutuhan subsidi jadi lebih besar. Kalau dikatakan membengkak ya membengkak. Kita lihat pemerintah bisa bayarnya berapa, yang tidak bisa dibayarkan jadi utang pemerintah ke PLN," ujar Dirut PLN Eddie Widiono pada kesempatan yang sama. Namun Eddie tidak merinci berapa persen kemungkinan subsidi akan membengkak. Sementara itu, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dalam paparannya menjelaskan, bahwa realisasi ICP rata-rata hingga 19 Oktober adalah US$ 68,10/barel. Dan diprediksi pada November-Desember ICP akan dikisaran US$ 85/barel. Angka ini membuat ICP rata-rata menjadi US$ 70,91/barel. "Tapi memang memprediksi harga minyak itu sulit. Walau kemarin jenis WTI sempat US$ 90, tapi hari ini sudah menandakan penurunan," tegas Purnomo. (lih/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads