Krisis Subprime Buka Borok Kelemahan Sistem Keuangan
Selasa, 23 Okt 2007 10:11 WIB
Washington, DC -
Krisis kredit macet sektor perumahan (subprime mortgage) akhir-akhir ini telah memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia. Dibalik itu semua, krisis itu juga ikut membuka borok lemahnya infrastruktur pasar keuangan global yang harus segera dibenahi.Hal tersebut disampaikan Managing Director International Monetary Fund (IMF) Rodrigo de Rato dalam pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia, di Washington DC seperti dilansir situs resmi IMF, Selasa (23/10/2007). Pertemuan itu telah berakhir pada tanggal 22 Oktober 2007.Dalam pidato resmi menjelang lengser dari kursi pimpinan IMF akhir bulan ini, Rato mengatakan risiko dalam pasar keuangan sekarang lebih besar dibanding 6 bulan lalu karena ada goncangan di pasar kredit khususnya di AS.Menurut Rato, komunitas internasional perlu memastikan bahwa infrastruktur pengawasan cukup dan sederhana untuk mengatasi krisis di dunia yang sudah mengglobal ini."Selama beberapa bulan terakhir ini, kita sudah melewati goncangan dalam pasar kredit, yang menyebabkan kerugian bagi banyak orang," ujarnya.Namun Rato tetap menekankan bahwa goncangan itu masih berpotensi untuk terulang kembali. "Kita harus mengambil langkah untuk meminimalkan efeknya, dan pelajaran apa yang bisa kita ambil dari krisis," ujarnya.Dia menilai ada 5 kelemahan yang terbuka oleh krisis kredit:1. Pemicu krisis salah satunya adalah karena investor tidak melakukan due diligence atau uji kelayakan yang memadai terhadap pasar kredit. Investor juga tidak terlalu memahami mengenai profil risiko dari intrumen kredit dan tidak transparannya kredit. "Jadi kita perlu mencari cara yang murah untuk meningkatkan transparansi dalam pasar kredit," ujarnya.2. Inovasi dalam sistem keuangan sepertinya memungkinkan perbankan untuk memindahkan risiko dari neraca, tapi tidak memungkinan perbankan untuk menghindari risiko itu timbul kembali. Ini berarti perlu penilaian dalam prinsip kehati-hatian perbankan oleh pengawas. Sementara itu lembaga rating perlu lebih memfokuskan perhatian pada neraca.3. Ketergantungan perbankan pada pasar sekuritas untuk pembiayaan mereka di satu sisi telah membuat perbankan rentan terhadap risiko likuiditas.4. Di beberapa area, khususnya di pasar mortgage, krisis telah memberi pelajaran bahwa harus ada perlindungan, pendidikan dan pembukaan informasi yang sederhana bagi investor. Korban utama dari krisis adalah orang-orang yang terbujuk rayu untuk membeli rumah padahal mereka tidak mampu. Akibatnya mereka kini menjadi tunawisma.5. Krisis itu juga menunjukkan perlunya koordinasi antara lembaga pengawas, regulator, bank sentral, menteri keuangan untuk menyederhanakan infrastruktur pengawasan.
(ddn/qom)










































