SBY-JK Bisa Kepleset Harga Minyak Jika Tak Hati-hati

SBY-JK Bisa Kepleset Harga Minyak Jika Tak Hati-hati

- detikFinance
Selasa, 23 Okt 2007 16:42 WIB
Jakarta - Harga minyak yang tak terkendali bisa memporak-porandakan perekonomian nasional. Jika tidak ada langkah serius dari pemerintah, bisa menjadi catatan buruk untuk pemerintahan SBY-JK. Bisa-bisa 2009 nanti pasangan itu tak terpilih lagi. Hal ini disampaikan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sofyan Wanandi di gedung Departemen ESDM, Jakarta, Selasa (23/10/2007). Menurutnya ada tiga hal yang membuat perekonomian di tahun 2008 menjadi sulit. Padahal 2008 adalah tahun penentu bagi SBY-JK. Pertama adalah ketidakpastian harga minyak, kedua adalah nilai tukar dolar yang terus melemah, dan ketiga adalah dampak subprime mortgage yang hingga sekarang belum pulih. Ketiga faktor itu sangat mempengaruhi perekonomian global yang akhirnya berdampak pada perekonomian nasional. Akibatnya, target pertumbuhan 2008 sebesar 6,8% diperkirakan akan sulit tercapai. "Barang kita jadi sulit dijual. Karena permintaannya menciut. Ekonomi Indonesia pun jadi sulit. Makanya pemerintah harus hati-hati. Apalagi kalau mau sukses di 2009. Harus ada langkah-langkah yang serius untuk menghadapi itu. Kalau tidak ada, saya rasa sulit terpilih lagi," katanya. Caranya antara lain dengan mempercepat produksi minyak nasional, membereskan pemda yang nakal, dan membangun fasilitas infrastruktur. "Pemda sekarang kan malah jadi penghambat, malah jadi calo juga. Gimana nggak pusing? Industri juga dibikin setengah mati karena banyak infrastrutur yang dibangun telat. Akibatnya ekonomi tertunda terus. Kalau mau menang lagi, ya harus cepat dong," keluhnya. Selain itu, menurutnya BUMN juga harus jadi ujung tombak perekonomian. Bukan dengan mengandalkan swasta begitu saja. Kondisi akan semakin diperparah jika PGN jadi menaikkan gas pada tahun depan. Dipastikan kondisi industri akan semakin sulit lagi. "Di level sekarang saja sudah sulit, apalagi kalau jadi dinaikkan," katanya. Tapi ia mengakui kenaikan gas baru memungkinkan dilakukan tahun depan. Karena hingga akhir tahun ini sudah ada kontrak yang berlaku. (lih/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads