Airlangga Pede Ekonomi Tahun Ini Tumbuh 5,3%

Airlangga Pede Ekonomi Tahun Ini Tumbuh 5,3%

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 14 Apr 2026 09:22 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto
Foto: Eva/detikcom
Jakarta -

Kondisi ekonomi Indonesia saat ini diklaim tetap tangguh di tengah gejolak global. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan kondisi ekonomi Indonesia jauh berbeda dari krisis yang terjadi pada tahun 1998 lalu.

Di antara negara-negara G20, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 merupakan yang kedua tertinggi setelah India, yaitu 5,11%. Namun defisit anggaran Indonesia di bawah 3%.

Defisit tergolong rendah dibanding negara-negara G20 lainnya dengan pertumbuhan yang ekspansif. Sebagai pembanding, defisit anggaran India mencapai 4% persen, Prancis 4,4%, Amerika Serikat (AS) 6,3%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) hingga Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global di kisaran 2,6-3,3%. Sementara Indonesia pada tahun ini diperkirakan bisa tumbuh sampai kisaran 5,3%. Bahkan, Airlangga optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 dapat menyentuh 5,5%.

ADVERTISEMENT

"Jauh berbeda dengan situasi tahun 1998. Dari segi ekonomi makro, saya katakan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) adalah 5,11%. Dan proyeksi tahun ini di atas 5,3%. Dan kuartal pertama tahun ini, kami optimis pertumbuhan Indonesia di kuartal pertama sekitar 5,5%," kata Airlangga dalam keterangan resmi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Selasa (14/4/2026).

Mengutip laporan Bloomberg, Indonesia termasuk salah satu negara dengan kemungkinan rendah terkena resesi. Berdasarkan laporan Bloomberg, kemungkinan Indonesia terkena resesi hanya 5%. Untuk pembanding, menurut laporan tersebut peluang Brasil resesi 15%, China 15%, Jepang 30%, dan AS 30%.

Genjot Ketahanan Pangan-Energi


Airlangga menjelaskan ketahanan Indonesia ditopang oleh ekonomi domestik yang kuat, mencapai 54% dari PDB. Ekonomi domestik yang besar juga didukung dengan ketahanan pangan dan energi.

Selain itu, Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berhasil mencapai swasembada beras sejak 2025. Produksi beras mencapai 34,7 juta ton dan stok Bulog 4,6 juta ton per 8 April 2026, tertinggi dalam sejarah. Untuk meningkatkan ketahanan energi, pemerintah akan menerapkan kebijakan B50, pengembangan energi surya, hingga peningkatan kapasitas kilang minyak.

APBN berfungsi sebagai peredam guncangan untuk masyarakat, berbagai bantuan sosial diberikan untuk masyarakat miskin. Pemerintah pun berhasil meningkatkan penerimaan pajak. Per Maret 2026, penerimaan pajak mencapai Rp 462,7 triliun atau tumbuh 14,3% secara tahunan. Defisit APBN pun tetap terkendali.

"Dan jika Anda melihat cadangan devisa masih sekitar US$ 148,2 miliar, itu setara dengan enam bulan impor," papar Airlangga.

Tingkat kemiskinan terus berkurang hingga di bawah 10%, saat ini 8,25%. Tingkat kesenjangan juga semakin menurun menjadi 0,363. Tingkat pengangguran pun berhasil ditekan ke 4,7%.

Rasio utang pemerintah saat ini 40,46% terhadap PDB atau sebesar Rp 9.637,9 triliun. Namun, sebagian besar pinjaman berasal dari dalam negeri. Kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) hanya 12,6% sehingga mengurangi kerentanan eksternal.

Tonton juga video "Pemerintah Siapkan Rp 1,77 T Agar Biaya Haji Tak Naik, Dana dari APBN"

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads