Bos Buruh Beberkan 10 Perusahaan Beri Sinyal Mau PHK 3 Bulan Lagi

Bos Buruh Beberkan 10 Perusahaan Beri Sinyal Mau PHK 3 Bulan Lagi

Ilyas Fadilah - detikFinance
Rabu, 15 Apr 2026 07:28 WIB
Ilustrasi PHK
Foto: Ilustrasi PHK (Tim Infografis: Zaki Alfarabi)
Jakarta -

Sebanyak 10 perusahaan dilaporkan mulai ancang-ancang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Para pekerja sudah diajak berdiskusi terkait potensi pengurangan tenaga kerja yang bisa terjadi dalam tiga bulan ke depan.

Menurut Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal, hal ini dilakukan sebagai respons terhadap krisis imbas perang di Timur Tengah. Meskipun, Said Iqbal memastikan bahwa PHK tersebut belum terjadi.

"Jadi, berdasarkan laporan dari anggota KSPI di tiket pabrik ya, kita kan punya anggota di pabrik, bahwa mereka sudah mulai diajak ngomong lah, belum melakukan PHK baru diajak ngomong, kalau perang tetap berlanjut, maka tiga bulan ke depan ini pasti ada potensi PHK," kata Said Iqbal saat dihubungi detikcom, Selasa (14/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Secara keseluruhan, 10 perusahaan tersebut mempekerjakan 9.000 orang. Perusahaan-perusahaan itu tersebar di Jawa Barat, Jawa Timur, serta sebagian di Banten dan Jawa Tengah.

"Ada 10 perusahaan di daerah Jawa Barat, Jawa Timur, sebagian kecil di Banten dan Jawa Tengah, tapi memang baru laporan. Nah, itu melibatkan hampir, hampir kurang lebih yang 10 perusahaan ini saja ya, kan kita nggak tahu di luar ini. Itu hampir kurang lebih mendekati 9 ribuan orang," tambah dia.

Ia menjelaskan, potensi PHK paling besar terjadi di sektor industri padat karya seperti tekstil dan garmen. Industri ini sangat bergantung pada bahan baku impor seperti kapas dari Australia, Brasil, dan Amerika Serikat, yang kini terancam terganggu pasokannya serta mengalami kenaikan harga.

Kemudian industri otomotif dan elektronik, kenaikan harga BBM industri yang tidak disubsidi ikut mendorong perusahaan melakukan efisiensi, termasuk mengurangi tenaga kerja, terutama karyawan kontrak. Industri berbasis petrokimia seperti plastik juga terdampak karena bahan bakunya berbasis impor dan dibayar dalam dolar AS.

"Kan elektronik banyak juga yang bahan dasarnya plastik. Misal contoh frame, frame-nya itu kan molding, molding-nya itu kan dari plastik. Rata-rata kalau bahan bakunya yang ada plastik, kemungkinan potensi efisiensi penekanan labor cost buruk, itu pasti akan ada efisiensi dalam bentuk pengurangan karyawan," tutup Said Iqbal.

(ily/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads