Biaya Perang AS Lawan Iran Diprediksi Tembus US$ 1 Triliun

Biaya Perang AS Lawan Iran Diprediksi Tembus US$ 1 Triliun

Retno Ayuningrum - detikFinance
Selasa, 14 Apr 2026 22:17 WIB
President Donald Trump speaks about the Iran war from the Cross Hall of the White House on Wednesday, in Washington. Alex Brandon/Pool/AP
Presiden Amerika Serikat Donald Trump.Foto: Alex Brandon/Pool/AP
Jakarta -

Biaya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran diprediksi bakal melampaui angka resmi yang dirilis pemerintah. Diperkirakan, total biaya perang ini bisa menembus angka US$ 1 triliun atau setara Rp 17.100 triliun (kurs Rp 17.100/US$).

"Saya yakin perang Iran akan mencapai US$ 1 triliun," ujar Akademisi Universitas Harvard Linda Bilmes, dalam sebuah wawancara internal, dikutip dari CNBC International, Selasa (14/4/2026).

Dalam laporan Pentagon kepada Kongres, operasi gabungan AS-Israel dalam melawan Iran ini telah menghabiskan biaya sebesar US$ 11,3 miliar selama enam hari. Namun, Bilmes menilai angka tersebut belum menghitung kondisi riil di lapangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bilmes memperkirakan biaya jangka pendek perang ini mencapai US$ 2 miliar per hari selama 40 hari konflik berturut-turut. Biaya ini mencakup harga amunisi, pengerahan pasukan, dan kerusakan aset militer.

Menurut Bilmes, biaya jangka pendek sebenarnya bisa lebih tinggi daripada yang dihitung Pentagon. Hal ini karena Pentagon melaporkan angka berdasarkan nilai lama barang-barang militer, bukan harga terkini untuk menggantikan aset tersebut yang harganya bisa jauh lebih mahal.

ADVERTISEMENT

"Kesenjangan inilah yang membuat laporan US$ 11,3 miliar sebenarnya lebih mendekati US$ 16 miliar. Ini mencerminkan perbedaan yang terus terjadi antara apa yang dilaporkan Pentagon dengan biaya perang yang sebenarnya," terang Bilmes.

Selain itu, kontrak multi tahun dengan perusahaan seperti Lockheed Martin dan Boeing untuk rudal pencegat (interceptor) membuat biaya pengadaan kembali bagi AS menjadi sangat mahal, yakni US$ 4 juta per rudal. Angka ini sangat kontras dengan biaya drone Iran yang hanya membutuhkan US$ 30.000 per unit untuk diproduksi.

Dalam jangka panjang, biaya perang akan terus membengkak karena rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur sekutu di kawasan Teluk yang juga terkena dampaknya. Sementara itu, Gedung Putih telah meminta Kongres untuk menaikkan anggaran pertahanan AS menjadi US$ 1,5 triliun.

Jika disetujui, ini akan menjadi belanja militer terbesar sejak Perang Dunia II. Angka tersebut bahkan belum termasuk dana cadangan US$ 200 miliar yang diminta Pentagon khusus untuk perang di Iran.

Dampak ke Defisit Fiskal AS

Pengeluaran besar-besaran ini akan memperbesar defisit fiskal AS. Sebagai perbandingan, saat perang Irak, AS harus menelan total biaya US$ 2 triliun dengan utang publik AS masih di bawah US$ 4 triliun.

Saat ini, utang AS telah melampaui US$ 31 triliun. Sebagian utang tersebut berasal disebabkan karena perang-perang sebelumnya, seperti saat melawan Irak.

"Kita meminjam uang untuk mendanai perang ini dengan suku bunga yang lebih tinggi, di atas basis utang yang sudah jauh lebih besar. Akibatnya, biaya bunga saja akan menambah miliaran dolar pada total biaya perang ini. Berbeda dengan biaya operasional di awal, biaya bunga ini adalah beban yang secara nyata kita wariskan kepada generasi berikutnya," jelas Belmis.

(rea/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads