Harga Serat Sintetis Naik 10%
Rabu, 24 Okt 2007 13:22 WIB
Jakarta - Harga produk serat sintetis untuk kebutuhan garmen naik 10 persen mulai November 2007 menyusul tingginya harga minyak dunia. Harga serat sintetis naik dari US$ 2,7 menjadi US$ 3 per kilogram.Hal tersebut disampaikan Sekjen Asosiasi Produsen Synthetic Fiber Indonesia (APSyFI) Kustarjono Prodjolalito usai halal bihalal Departemen Perindustrian, di Gedung Depperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (24/10/2007). Menurut Kustarjono, kenaikan harga minyak dunia telah menaikkan harga bahan baku serta sintetis yang terdiri dari Purified Tarapthalic Acid (PTA) dan monoetilen glikol (MEG) dari semula US$ 800 per ton menjadi US$ 850 per ton."Di tahun ini kita hanya memproduksi 740 ribu ton dari kapasitas produksi dalam negeri yang 1,2 juta ton akibat dari kenaikan harga bahan baku," tutur Kustarjono.Industri yang membeli serat sintetis untuk kontrak hingga Desember 2007 harganya aman karena masih memakai harga lama. Tapi kalau membeli di pasar spot atau pembeli eceran akan terkena harga baru di bulan November.Saat ini Indonesia masuk peringkat 10 dunia untuk produsen serat sintetis. Peringkat satu diduduki RRC dengan produksi 22 juta ton dan kedua India sebanyak 15 juta ton."Dampaknya dari oversupply ini terjadi banjir impor di Indonesia," katanya.Di tahun ini saja ada sekitar 300 ribu ton sintetik impor dengan harga yang lebih murah bahkan ada kecenderungan harga dumping.Ini juga, lanjut Kustarjono merupakan salah satu penyebab produsen dalam negeri enggan menambah kapasitas produksi. Saat ini sebesar 70 persen produksi lokal untuk kebutuhan dalam negeri dan 30 persen ekspor.Terkait prediksi kenaikan harga minyak yang bisa tembus US$ 100 juta, pelaku industri berencana mengalihkan bahan baku serat alami pada 15 tahun mendatang. Pemakaian serat alami tidak populer karena membuat biaya produksi naik dua kali lipat dan harganya lebih mahal.
(ir/ddn)











































