Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia semakin banyak. Per Februari 2026 jumlahnya mencapai US$ 437,9 miliar atau setara Rp 7.488 triliun (kurs Rp 17.100), meningkat dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang senilai US$ 434,9 miliar.
"Secara tahunan ULN Indonesia pada Februari 2026 tumbuh 2,5% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,7% (yoy)," kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulis, Rabu (15/4/2026).
Denny menyebut kenaikan posisi ULN pada Februari 2026 terutama didorong oleh ULN sektor publik khususnya bank sentral seiring dengan aliran masuk modal asing ke instrumen moneter yakni Sekuritas Rupiah BI (SRBI). Sementara itu, ULN swasta mengalami penurunan.
Dari ULN publik, posisi ULN pemerintah pada Februari 2026 tercatat sebesar US$ 215,9 miliar atau tumbuh 5,5% (yoy). Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan posisi surat utang.
Berdasarkan sektor ekonomi, penggunaan ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,0% dari total ULN pemerintah); Administrasi Pemerintah, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib (20,3%); Jasa Pendidikan (16,2%); Konstruksi (11,6%); serta Transportasi dan Pergudangan (8,5%).
"Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,98% dari total ULN pemerintah. Sementara peningkatan ULN BI didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter yang diterbitkan oleh BI sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global," jelas Denny.
(aid/hns)