Pedagang Pasar Cipadu Menjerit, Kena Dampak Konflik Timur Tengah

Pedagang Pasar Cipadu Menjerit, Kena Dampak Konflik Timur Tengah

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 16 Apr 2026 13:29 WIB
Pedagang Cipadu
Foto: Ignacio Geordy Oswaldo
Jakarta -

Industri tekstil dan produk tekstil dalam negeri tengah menghadapi tekanan serius imbas kenaikan harga bahan baku akibat konflik di Timur Tengah. Kenaikan harga bahan baku ini perlahan mulai mengerek harga kain di pasar.

Salah satunya seperti yang terjadi di pusat tekstil legendaris, Pasar Cipadu, Tangerang. Di kawasan ini, harga kain untuk bahan pakaian dan seragam sudah mengalami kenaikan meski belum begitu besar.

Muklis, salah satu pedagang kain bahan di pusat tekstil legendaris itu, mengaku harga produk yang dijualnya sudah mengalami kenaikan di tingkat agen sebesar Rp 1.500 per yard (90 cm) sejak seminggu lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Harga memang sudah naik, sudah naik dari agen-agennya. Sudah satu minggu. Kalau dari agen ke kita Rp 1.500 per yard naiknya. Ini kan kita cuma jual American drill namanya, biasanya yang paling murah Rp 30.000 per yard, sekarang Rp 31.500-32.000 lah kita jual," kata Muklis saat ditemui detikcom di Pasar Cipadu, Tangerang, Kamis (16/4/2026).

"Ya harga barang yang kita jual ikut naik, kita sesuai kenaikan agen kan. Ibarat kita ambil modal 10, nggak mungkin kan kita jual 9, rugi," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, kenaikan harga ini masih cenderung belum begitu besar karena di tingkat produsen dan agen masih menahan harga alias menaikkan secara bertahap. Sehingga ia juga tidak bisa memastikan apakah ke depan harga kain bahan masih akan terus naik atau tidak.

"Ke depannya belum tahu, nanti bisa lebih tinggi lagi. Nggak tahu besok ini naiknya bisa berapa kan? Bisa Rp 5.000 naiknya, nggak tahu kita kan," ujarnya.

Namun, yang menjadi perhatian utamanya saat ini bukan hanya masalah kenaikan harga kain, melainkan kehadiran para pembeli di Pasar Cipadu. Sebab, baik harga mengalami kenaikan atau tidak, percuma jika tak ada pembeli yang datang.

"Masalah utamanya kan bukan di harga, tapi di ekonomi kita. Kan ini saya jual bahan kebanyakan untuk seragam pabrik. Kalau dulu orang pabrik dapat seragam setahun dua kali, sekarang paling tiga tahun sekali, efisiensi. Percuma harga nggak naik kalau nggak ada yang beli," jelasnya.

"Di pasar pun sama, kelihatan kan (kondisi pasar) ini bagaimana. Dulu orang ramai lalu lalang, sekarang sepi. Siapa yang beli kalau sepi begini, paling cuma andalkan langganan pesan lewat WA," tambah Muklis sembari menunjukkan kondisi pasar yang kini sudah sangat sepi.

Senada, Ade selaku penjaga toko kain lain di Pasar Cipadu juga mengaku produk yang dijualnya sudah ikut mengalami kenaikan harga, baik untuk kain yang dijual per meter atau biasa ia sebut keteng, maupun kain yang dijual per rol atau gulungan.

"Harga naik Rp 2.000 per meter, per rol-an (gulung). Kalau per rol itu Rp 27.500 per yard naik jadi Rp 29.000 per yard. Satu rol itu 30 yard atau 27 meter, kan satu yard 0,9 meter. Jadi se-rol dari Rp 825.000 jadi Rp 870.000. Kalau keteng Rp 35.000 naik jadi Rp 37.000 per meter," jelasnya.

Alih-alih masalah kenaikan harga, ia juga lebih prihatin dengan kondisi pasar saat ini yang sudah sangat sepi. Bak jatuh tertimpa tangga, ia takut jika kondisi pasar yang saat ini sudah memprihatinkan menjadi semakin sulit lagi jika pembelian semakin berkurang karena adanya kenaikan harga.

"Sekarang memang sepi, jauh lebih ramai yang dulu daripada sekarang. Dulu bisa sehari 20 rol, sekarang jarang, sepi sekarang, satu rol saja susah. Keteng lah paling masih ada satu dua yang beli," kata Ade.

Tonton juga video "Prabowo Sebut Kondisi RI Lebih Baik di Tengah Krisis Timteng"




(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads