Kondisi Ekonomi Indonesia Diklaim Tahan Banting!

Kondisi Ekonomi Indonesia Diklaim Tahan Banting!

Heri Purnomo - detikFinance
Kamis, 16 Apr 2026 21:48 WIB
Hingga kuartal III 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5,04%. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini ekonomi di kuartal IV akan melonjak hingga di kisaran 5,7%.
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.Foto: Andhika Prasetia
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa kinerja perekonomian Indonesia tetap tangguh di tengah tekanan global yang kian terus meningkat.

Hal ini Gubernur BI Perry Warjiyo dalam sejumlah pertemuan lanjutan dengan investor global, serta pertemuan dengan US-ASEAN Business Council dan International Monetary Fund dalam rangkaian IMF-World Bank Spring Meetings 2026 di Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (15/4/2026).

"Indonesia menegaskan kinerja ekonominya yang berdaya tahan di tengah berbagai krisis, sekaligus memperkuat kepercayaan para pelaku usaha AS yang beroperasi di Asia Tenggara," ujarnya dikutip dari keterangan tertulis BI, Kamis (16/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kesempatan tersebut, Perry mengungkapkan tiga faktor kunci penopang ketahanan ekonomi nasional, yaitu kredibilitas kebijakan, kemampuan adaptasi terhadap dinamika global, dan penguatan kemitraan internasional.

Ketiga faktor tersebut meliputi, pertama, konsistensi dan sinergi kebijakan moneter, fiskal, serta stabilitas sistem keuangan yang dijalankan secara kredibel.

ADVERTISEMENT

Kedua, kemampuan untuk terus beradaptasi dan menyesuaikan kerangka kebijakan seiring perubahan dinamika global.

"Ketiga, penguatan kerja sama dan kemitraan internasional, termasuk dengan Amerika Serikat (AS) dan negara lainnya," ujarnya.

Di hari yang sama, Gubernur Bank Indonesia juga melakukan pertemuan dengan First Deputy Managing Director (FDMD) International Monetary Fund, Dan Katz, yang membahas perkembangan geopolitik dan ketidakpastian global yang tinggi.

Dalam diskusi ini disoroti bahwa risiko global tidak hanya berasal dari harga minyak, tetapi juga potensi dampak rambatan melalui rantai pasok global. Oleh karena itu, kalibrasi kebijakan tidak hanya berfokus pada indikator yang sudah terlihat, tetapi juga pada kemampuan untuk mengantisipasi risiko yang belum sepenuhnya teridentifikasi.

"Selaras dengan tiga faktor kunci tersebut, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan internasional dan komunikasi dengan investor global guna menjaga stabilitas eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global," katanya.

(hrp/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads