Ngeri... Dua Sektor Industri Ini Dibayangi PHK Sampai 9.000 Orang

Ngeri... Dua Sektor Industri Ini Dibayangi PHK Sampai 9.000 Orang

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 17 Apr 2026 17:05 WIB
Ciudad Juarez, kota perbatasan Meksiko yang selama ini menjadi pusat industri perakitan, kini tengah menghadapi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Ribuan pekerja terpaksa kehilangan mata pencaharian mereka akibat kombinasi kebijakan tar
Foto: REUTERS/Jose Luis Gonzalez
Jakarta -

Presiden Partai Buruh sekaligus Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mengatakan sebanyak 9.000 buruh, terutama yang bekerja di industri tekstil dan plastik, berpotensi terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) imbas konflik di Timur Tengah.

"Terutama di industri plastik dan industri tekstil, saat ini tercatat 9.000 berpotensi, berpotensi 9.000 karyawan akan terjadi PHK, kata Said dalam konferensi pers yang dilakukan secara online, Jumat (17/4/2026).

Informasi ini didapat Said dari para buruh yang para pemimpin perusahaannya telah memberikan sinyal efisiensi kepada serikat pekerja di tingkat pabrik. Namun ia belum bisa memberikan bocoran informasi lebih jauh karena efisiensi tersebut belum benar-benar dilakukan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya belum bisa menyebut nama perusahaannya karena teman-teman di tingkat pabrik meminta jangan disebut dulu karena belum terjadi PHK. Ini akan terlihat di 3 bulan ke depan," ujarnya.

Said menjelaskan, perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah membuat harga energi global melonjak sangat tinggi. Masalahnya kondisi ini akan sangat berdampak langsung pada biaya produksi.

ADVERTISEMENT

"Yang akan menyebabkan PHK, pertama, harga BBM industri melambung tinggi. Karena harga BBM industri tidak bersubsidi dia mengikuti mekanisme pasar," paparnya.

Bak jatuh tertimpa tangga, selain kenaikan harga BBM yang langsung menaikkan biaya produksi, konflik di Timur Tengah ini juga mengerek harga impor bahan baku pabrik. Tentu kenaikan bahan baku impor ini akan semakin menekan keuangan perusahaan.

"Kedua, faktor bahan-baku impor. Bahan baku impor akibat fluktuasi rupiah terhadap dolar, dan juga akibat susah mendapatkan barang impor, logistik, dan delivery-nya akibat perang, maka bahan-baku impor naik tajam," jelasnya.

"Sudahlah bahan bakar industri yang tidak bersubsidi mengakibatkan ongkos produksi naik, ditambah bahan baku juga naik. Industri-industri plastik itu sudah naik," ucap Said lagi.

Semua kondisi inilah yang kemudian memaksa perusahaan untuk melakukan efisiensi alias PHK massal terhadap para pekerja dalam tiga bulan ke depan, dengan potensi 9.000 pekerja terimbas tadi.

"Nah pabrik-pabrik ini akan melakukan efisiensi. Karena ongkos produksi naik, efisiensinya adalah di labor cost, di biaya buruh. Untuk melakukan penekanan biaya buruh adalah pengurangan karyawan," kata Said.

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads