Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat lonjakan kinerja ekspor komoditas unggas pada 2026. Produk ayam dan telur Indonesia diklaim semakin kompetitif di pasar global.
"Sekarang ini kita sudah swasembada telur, ayam, beras dan seterusnya. Nah ini kita dorong ekspor ke negara-negara lain," ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam keterangan tertulis, Minggu (19/4/2026).
Data terbaru menunjukkan pada Maret 2026 Indonesia mengekspor 545 ton produk unggas senilai Rp 18,2 miliar ke negara tujuan seperti Singapura, Jepang dan Timor Leste. Ekspor tersebut didominasi telur konsumsi sebanyak 517 ton (Β±8,13 juta butir), sementara sisanya berupa daging ayam dan produk olahan bernilai tambah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kinerja ekspor unggas menunjukkan tren peningkatan. Tahun 2024 ekspor unggas tercatat sekitar Β±300 ton dengan nilai sekitar Rp 10-11 miliar, sementara 2025 meningkat menjadi Β±400 ton dengan nilai Rp 13-15 miliar.
Amran menyebut capaian itu merupakan buah dari keberhasilan swasembada protein hewani. Hal itu ditopang surplus produksi nasional dan strategi ekspansi pasar yang agresif.
"Sekarang ada 10 tujuan negara langganan ekspor kita," imbuhnya.
Tak hanya dari sisi volume, transformasi juga terlihat pada struktur ekspor yang mulai bergeser ke produk olahan seperti nugget dan karaage. Hal itu mendorong peningkatan nilai tambah sekaligus memperkuat daya saing industri perunggasan nasional.
Peningkatan kinerja ekspor ditopang produksi nasional yang kuat. Indonesia mencatat saat ini produksi daging ayam ras 4,29 juta ton dengan konsumsi setahun 4,12 juta ton, produksi telur ayam ras 6,54 juta ton dengan konsumsi setahun 6,47 juta ton.
"Dengan kondisi surplus memungkinkan ekspansi pasar tanpa mengganggu kebutuhan dalam negeri," imbuhnya.
(acd/acd)










































