Efek Lanjutan Krisis Subprime dan Harga Minyak Terasa di 2008
Jumat, 26 Okt 2007 10:59 WIB
Jakarta -
Pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi akan melemah pada tahun 2008. Salah satu faktor penyebabnya adalah efek lanjutan krisis kredit perumahan di AS (subprime mortgage).Menurut Menkeu Sri Mulyani pemerintah akan mencermati dengan hati-hati perkembangan ekonomi global."Sekarang orang membicarakan second round effect, kalau seandainya harga minyak plus subprime mortgage membuat keseluruhan ekonomi dunia betul-betul melemah itu mungkin baru akan terjadi pada triwulan III atau semester II-2008," ujar Sri Mulyani di sela-sela halal bihalal di Graha Sawala, Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (26/10/2007).Pertumbuhan ekonomi dunia tahun depan menurut Dana Moneter Internasional (IMF) melemah namun tetap solid pada angka 4,8%.Angka tersebut lebih rendah dari perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2007 sebesar 5,2% dan 5,4% pada tahun 2006.Gejolak di pasar finansial akibat krisis subprime mortgage AS menghambat prospek ekonomi dunia pada tahun 2008.Meski pertumbuhan ekonomi dunia turun, namun untuk negara Cina dan India masih tumbuh tinggi. Sementara untuk Indonesia sendiri, Sri Mulyani yakin 2008 masih akan memberi peluang bagi ekonomi Indonesia. Ekonomi masih akan sangat didominasi oleh komoditas unggulan seperti minyak, gas, batubara dan minyak sawit mentah."Maka komposisi dari pertumbuhan ekonomi terutama yang didorong oleh ekspor sekarang itu diperkirakan masih tumbuh di atas 10%, dan investasi yang sudah mulai naik," jelasnya. Berbagai indikator naiknya investasi menurut Sri Mulyani mulai terlihat dari naiknya LDR perbankan, masuknya PMA dan PMDN."Semuanya menunjukkan adanya pick up dari pertumbuhan ekonomi. Sehingga kita lihat 2007 sampai pertengahan 2008, seluruh skenario itu akan tetap jalan," ujarnya.
(ddn/qom)










































