Maskapai Terancam Kehabisan Avtur Imbas Perang AS-Iran

Maskapai Terancam Kehabisan Avtur Imbas Perang AS-Iran

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 21 Apr 2026 08:30 WIB
Pesawat sedang take off atau lepas landas.
Ilustrasi/Foto: Unsplash/Gary Lopater
Jakarta -

Maskapai penerbangan di Eropa dan Asia terancam kekurangan bahan bakar (avtur) imbas perang Amerika Serikat (AS) dan Iran. Maskapai yang sebagian besar bergantung pada impor dihantui peningkatan pembatalan penerbangan dan pengurangan jadwal.

Kepala Analis AS di perusahaan konsultan energi Kpler, Matt Smith mengatakan kekurangan pasokan global mendorong kenaikan harga bahan bakar untuk maskapai penerbangan. Kondisi itu kemungkinan akan menaikkan harga tiket pesawat untuk wisatawan sampai beberapa bulan ke depan.

"Ini akan memakan waktu setidaknya hingga Juli dan bahkan itu mungkin terlalu optimis saat ini," kata Smith dikutip dari CNN, Selasa (21/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan jika AS dan Iran mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz hari ini, nasib perjalanan untuk beberapa bulan ke depan sudah ditentukan. United Airlines misalnya, telah memangkas jadwal sekitar 5% selama enam bulan ke depan.

ADVERTISEMENT

Sebagaimana diketahui, bahan bakar adalah biaya terbesar kedua bagi maskapai penerbangan, setelah biaya tenaga kerja. Sebagai gambaran sebuah jet komersial membutuhkan sekitar 800 galon bahan bakar per jam, sementara pesawat berbadan lebar umumnya membutuhkan lebih banyak lagi.

Sebanyak empat maskapai penerbangan terbesar AS seperti United, American, Delta, dan Southwest menghabiskan rata-rata sekitar US$ 100 juta per hari untuk bahan bakar pada tahun lalu. Biaya tersebut meningkat drastis sejak perang dimulai.

Pekan lalu, Delta mengatakan dapat menghabiskan tambahan US$ 2 miliar untuk bahan bakar tahun ini meskipun memiliki kilang sendiri. United bahkan dapat menghabiskan tambahan US$ 11 miliar untuk bahan bakar jika situasinya tetap seperti sekarang.

Harga tiket pesawat dadakan ke destinasi populer seperti penerbangan AS ke Karibia naik 74% dibandingkan awal bulan ini, menurut data dari Deutsche Bank. Sementara harga tiket ke Hawaii dari daratan AS naik 21%.

Menurut data Kpler, beberapa pengekspor bahan bakar jet seperti Kuwait dan Bahrain produknya tertahan penutupan Selat Hormuz. Lebih dari 20% pasokan bahan bakar jet yang melalui laut global melewati Selat Hormuz pada tahun lalu, dengan lebih dari dua pertiganya menuju Eropa.

Direktur Asosiasi Transportasi Udara Internasional, Willie Walsh mengatakan negara-negara Asia mulai membatasi ekspor bahan bakar jet. Hal itu dapat memberikan tekanan lebih besar pada harga bahan bakar jet AS.

"Bahkan jika Selat Hormuz segera dibuka kembali secara permanen, butuh waktu berminggu-minggu bagi minyak dan bahan bakar jet yang terperangkap untuk sampai ke pelanggan di Eropa dan Asia. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk memulai kembali produksi minyak dan bahan bakar jet yang terhenti akibat perang," imbuh Walsh.

(aid/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads