Negara-negara Besar Diingatkan Bahaya Proteksionisme

Negara-negara Besar Diingatkan Bahaya Proteksionisme

- detikFinance
Jumat, 26 Okt 2007 15:11 WIB
Jakarta - Bahaya proteksionisme lebih hebat dari sekedar ketidakseimbangan dunia alias global imbalances. Negara-negara maju pun diingatkan soal bahaya proteksionisme.Peringatan soal proteksionisme itu menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam pertemuan IMF-Bank Dunia yang berlangsung di Washington, AS, 20-22 Oktober lalu. Gubernur BI Burhanuddin Abdullah yang juga mengikuti pertemuan itu menyampaikan 'oleh-oleh' hasil pertemuan tersebut kepada wartawan di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (26/10/2007).Menurut Burhanuddin, berbagai isu menjadi menu bahasan dalam diskusi pertemuan tahunan itu. Mulai dari kenaikan harga minyak, krisis subprime mortgage, carry trade dan global imbalances. "Kemudian ada berbaagai warning bahwa jangan hal-hal seperti global imbalances dan lainnya justru akan mendorong negara-negara besar untuk melakukan proteksionisme. Kalau itu yang terjadi, bahkan bahayanya bisa lebih besar lagi dari sekedar global imbalances karena proteksionisme akan merugikan berbagai pihak, baik negara besar itu sendiri maupun semua pihak ," urainya.Negara-negara berkembang, kata Burhanuddin, menuntut negara-negara maju membuka pasar mereka tanpa harus memberikan bantuan subsidi demi meningkatkan kesejahteraan.Indonesia sendiri sejauh ini belum melihat dampak lebih jauh dari proteksionisme itu. "Tapi kan itu satu proses politik, seringkali anggota kongres menyuarakan hal seperti itu. Belum sampai kesana tapi perlu diberi warning ke berbagai pihak," imbuhnya.Dalam pertemuan tersebut, negara-negara berkembang juga menyatakan bahwa masalah regionalisme adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan. Untuk masalah regionalisme, kata Burhanuddin, ASEAN paling maju."Negara-negara Amerika Latin berusaha mencontoh negara Asean. Misalnya kita dengan EMEAP, kita dengan ASEAN plus 3 dan kemudian menumbuhkan dan menimbulkan balance swap of arrangement. Kita juga mengembangkan pasar modal dengan menerbitkan ASEAN bond fund," urainya.Hal lain yang dibahas dalam pertemuan tahunan itu adalah mengenai eksistensi IMF. Menurut Burhanuddin, sejumlah negara mulai mempertanyakan relevansi IMF pada masa ini."Bahkan orang mulai bertanya apakah langkah selama ini harus dikembalikan, sehingga diskusi mengarah ada bagaimana mengembalikan IMF pada khittah-nya yaitu kepada upaya-upaya untuk mempertahankan eksternal balance," jelasnya. (qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads