Menteri ESDM: Harga Minyak Indonesia Lebih Stabil
Sabtu, 27 Okt 2007 13:37 WIB
Jakarta - Meski harga minyak dunia telah tembus level US$ 92 per barel, pemerintah belum begitu panik, karena kenaikan harga minyak Indonesia lebih stabil.Harga minyak Indonesia menggunakan patokan Indonesia Crude Price (ICP) yang pada saat harga minyak dunia di level US$ 92 per barel, minyak Indonesia masih di kisaran US$ 84-85 per barel."Harga subsidi kita US$ 60, sekarang kalau rata-rata US$ 90-92 itu harga dari New York, maka harga ICP US$ 85. Kalau harga dunia US$ 85 sekarang masih US$ 63-66 per barel sampai November. Berarti rata-rata akhir tahun nanti sekitar US$ 70-an per barel untuk asumsi harga minyak Indonesia," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro.Hal itu diungkapkan Purnomo, disela-sela acara peringatan Hari Listrik Nasional ke-62 yang berlangsung di kantor Pusat PLN, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu (27/10/2007).Sistem ICP memakai angka perkembangan harga minyak pada Asian Petroleum Price Index (APPI) dengan porsi 5 persen, ditambah Platts 47,5 persen dan RIM Intelegence Company 47,5 persen. Dengan formula saat ini, ICP rata-rata US$ 3-4 per barel di bawah harga minyak mentah di pasar internasional.Menurut Purnomo, jika harga minyak dunia cepat naik, harga minyak Indonesia tidak akan cepat naik."Contohnya harga minyak dunia US$ 92 per barel maka harga minyak Indonesia masih US$ 84-85 per barel. Begitu juga kalau harga minyak dunia anjlok harga minyak Indonesia juga tidak anjlok. Jadi posisi harga minyak Indonesia lebih stabil. Memang harga minyak Indonesia yang dinamakan ICP itu kita desain dan formulasikan memang stabil," jelas Purnomo. Purnomo menjelaskan dengan harga minyak dunia yang tinggi maka pendapatan sektor migas Indonesia juga meningkat tapi itu juga tergantung jumlah produksi.Namun disisi lain subsisi juga akan ada kenaikan. "Justru itu sekarang bagaimana kita mengurangi subsidi," katanya.Subsisi tersebut terutama untuk premium dan minyak tanah. Disaparitas harga minyak tanah adalah yang terbesar sehingga subsidinya juga paling banyak."Prinsipnya dengan kenaikan minyak pendapatan kita naik walaupun akan ada kenaikan subsidi, tapi langkah-langkah sudah kita lakukan untuk bisa mengurangi subsidi semaksimal mungkin terutama fokusnya di sektor rumah tangga dan transportasi," katanya.Sementara untuk sektor ketengalistrikan penghematan bahan bakar sudah dilakukan yaitu mengganti pemakaian solar dengan Marine Fuel Oil (MFO) yang harganya lebih rendah karena MFO adalah minyak residu.Penggunaan batubara untuk program 10 ribu mega watt juga akan membuat pemakaian BBM di sektor listrik pada tahun 2010 akan turun menjadi 3-4%.Sektor industri juga sudah sangat rasional dengan menghindari BBM dan menggunakan batubara.Yang masih jadi persoalan kata Purnomo, bagaimana memecahkan masalah pengurangan BBM di transportasi dan rumah tangga."Premium juga lagi kita pikirkan bagaimana premium yang volumenya cukup besar itu kita kurangi dalam porsi penerimaan dan pengeluarannya," katanya.Sementara pengurangan bahan bakar untuk rumah tangga dilakukan melalui percepatan konversi elpiji dari 6 tahun pada tahun 2011 diharapkan bisa lebih cepat 3 tahun. "Infrastruktur ini harus dipenuhi dulu seperti kompor, tabung dan kalau perlu kompor elpiji yang harganya lebih rendah dari BBM, supaya bisa ada percepatan untuk pengurangan subsidi minyak tanah," katanya.
(ir/ir)











































