Perang berkepanjangan dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel mendorong ekonomi Iran ke dalam jurang kehancuran. Sebelum konflik, ekonomi Iran diketahui telah berada di bawah tekanan akibat sanksi.
Berdasarkan laporan CNBC, inflasi Iran tercatat melebihi 50% pada tahun 2025. Mata uang rial juga telah kehilangan 60% nilainya dalam beberapa bulan setelah perang 12 hari melawan AS pada Juli lalu.
Inflasi pangan di Iran juga tercatat melonjak hingga 64% pada Oktober tahun lalu. Kemudian pada Februari, inflasi pangan di Teheran meningkat menjadi 105% disusul dengan roti dan sereal yang naik 140%, dan minyak serta lemak naik 219% sejak awal tahun hingga Maret 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bank-bank Iran juga mulai mendistribusikan uang kertas 10 juta rial bulan lalu sebagai upaya mengendalikan inflasi dan memenuhi permintaan akan uang tunai.
Berdasarkan laporan IMF, ekonomi Iran diperkirakan menyusut sebesar 6,1% pada tahun 2026, inflasi sebesar 68,9% dan mata uang jatuh menjadi sekitar 1,32 juta rial per dolar AS.
Iran juga belum menerbitkan data PDB sejak tahun 2024. Kemudian pemadaman internet yang meluas telah membuat statistik domestik tidak dapat diakses di luar negeri.
Ekonomi Tertekan Imbas Sengketa Hormuz
Ekonomi Iran juga disebut telah mencapai batasnya. Penutupan efektif Selat Hormuz dan blokade yang dilakukan AS telah memutus sebagian besar perdagangan internasional Teheran, termasuk ekspor minyak Iran.
Lebih dari 90% perdagangan minyak Iran melalui selat tersebut. Blokade AS terhadap Selat Hormuz disebut dapat memangkas 70% pendapatan Iran dari penjualan minyak.
Perang tersebut juga memicu penurunan tajam permintaan domestik dan impor berdasarkan data dari mitra dagang Iran. AS juga mengancam akan menjatuhkan sanksi baru kepada bank-bank Tiongkok yang memfasilitasi transaksi yang terkait dengan Iran.
Akumulasi dari ancaman ini yang membebani ekonomi Iran. Peneliti senior Brookings Institution, Robin Brooks, mengatakan ekonomi Iran terancam menerima pukulan yang lebih berat.
"Hal ini menutup salah satu jalur kehidupan utama Teheran, dan mempercepat titik di mana neraca pembayaran Iran akan menemui jalan buntu," ujar Brooks dikutip dari CNBC, Sabtu (25/4/2026)
"Keefektifan blokade ini dan rasa takut yang ditimbulkannya pada Iran kemungkinan besar akan membawa Teheran kembali ke meja perundingan dengan itikad baik," tambah Brooks.
CEO Avarice Strategies, Jasmine El-Gamal, mengatakan Iran menganggap Selat Hormuz sebagai kunci kebangkitan ekonominya. AS juga berharap Iran segera melepaskan pengaruhnya di wilayah tersebut sebagai bagian dari kesepakatan perdamaian.
"Teheran telah berpegang teguh pada hal itu ... karena mereka tahu bahwa itu adalah kunci mereka, jalan gerbang mereka menuju kebangkitan ekonomi," jelasnya.
Sementara itu, Iran mungkin tidak akan menghadapi keruntuhan ekonomi sepenuhnya. Anggota dewan Quincy Institute for Responsible Statecraft, Amir Handjani, mengatakan Iran sudah terbiasa menghadapi sanksi internasional yang berat selama hampir lima dekade dan memiliki sistem transaksi energi yang menghindari sanksi AS.
"Selama kesepakatan damai tercapai dengan Amerika Serikat yang mencabut sanksi dan membebaskan ekonomi Iran dari 'kotak penalti' yang telah menjeratnya selama empat dekade, negara itu dapat pulih lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak orang," katanya.
Butuh Lebih dari Satu Dekade Pulihkan Ekonomi
Menurut laporan media lokal Iran, para pejabat ekonomi senior Teheran telah memperingatkan Presiden Masoud Pezeshkian terkait pemulihan ekonomi usai perang. Menurut sejumlah laporan, dibutuhkan lebih dari satu dekade untuk membangun kembali ekonomi yang porak-poranda.
Gubernur bank sentral Iran, Abdolnaser Hemmati, juga dilaporkan meminta Pezeshkian untuk mengambil langkah-langkah mendesak untuk menstabilkan ekonomi, termasuk memulihkan akses internet penuh dan mengupayakan kesepakatan damai dengan AS.
Namun analis mempertanyakan kecepatan Teheran dalam memperbaiki kerusakan pada sejumlah infrastruktur energi dan industri yang menopang pendapatan ekspor.
"Serangan terhadap kilang minyak, pembangkit listrik, dan fasilitas terkait merupakan luka ekonomi paling parah akibat konflik ini," kata Anggota dewan Quincy Institute for Responsible Statecraft, Amir Handjani.
Iran diketahui mengalami defisit anggaran sebelum perang dan menelan kerugian infrastruktur sekitar US$ 200 miliar hingga US$ 270 miliar.
"Tanpa ekonomi, layanan sosial dasar yang gagal, tanpa pilihan politik atau pemerintahan alternatif, dan tanpa teman global untuk menyelamatkan mereka, serta musim panas yang sangat terik akan segera tiba, bencana kemanusiaan serius sedang mengancam Iran," kata Wakil Presiden Global Guardian, Seth Krummrich.
Sementara itu ekonomi Oxford Economics, Lucila Bonilla, mengatakan lebih banyak kesulitan akan datang bagi Iran. Pasalnya, negara-negara tetangga Iran terimbas serangan Teheran mulai tengah mencari rute alternatif untuk menghindari Selat Hormuz.
Sementara mitra dagang Iran yang tersisa, seperti Rusia dan China, menunjukkan sedikit keinginan untuk membantu Iran.
"Kita tidak tahu apakah perang akan berlanjut, apakah kita akan mencapai kesepakatan atau tidak, tetapi yang kita ketahui adalah bahwa mereka [Iran] memiliki mata uang yang lebih lemah, inflasi yang jauh lebih tinggi. Mereka akan memiliki defisit fiskal yang jauh lebih besar, dan kemudian dengan situasi pengalihan rute untuk menghindari [Selat Hormuz] kemungkinan akan memiliki daya tawar yang lebih rendah daripada yang mereka perkirakan," katanya.
(ahi/hns)









































