Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengebut pembangunan kampung nelayan sebagai upaya mendorong ekonomi pesisir. Pelaksana Tugas Sekjen KKP, Andi Artha Donny Oktopura mengatakan, tahun ini ditargetkan 1.369 kampung nelayan selesai di berbagai wilayah.
"Jadi, kalau saat ini kami alhamdulillah sudah menyelesaikan di tahun ini, kita ditugaskan untuk menyelesaikan 1.369 kampung, kurang lebih seribuan lah. Dan di tahun ini kami sudah menjalankan kurang lebih 100, cuma presiden minta 1.269 di tahun ini, sehingga totalnya nanti 1.369 lah di tahun ini," katanya saat ditemui di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin,
Dari 100 kampung nelayan yang dibangun sebagian di antaranya telah masuk tahap penyelesaian dan ditargetkan rampung dalam waktu dekat. Andi menargetkan 100 kampung nelayan ini rampung dan siap beroperasi pada akhir Mei atau awal Juni 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Program ini diharapkan menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi, khususnya bagi masyarakat pesisir yang selama ini identik dengan kantong kemiskinan. Melalui pengembangan kampung nelayan, kawasan pesisir didorong menjadi lebih produktif dan mampu menghasilkan produk perikanan berkualitas.
"Sehingga nantinya ini bisa menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru untuk khususnya masyarakat-masyarakat nelayan-nelayan kita yang di pesisir yang selama ini dianggap, mohon maaf, yang kita tahu sebagai kantong-kantong kemiskinan," tuturnya.
KKP juga menyoroti dampak positif dari proyek percontohan yang sebelumnya dilakukan. Pendapatan nelayan disebut meningkat signifikan, bahkan hingga dua kali lipat setelah program berjalan. Selain itu, produktivitas juga naik seiring perbaikan infrastruktur dan sistem distribusi.
"Kami sebenarnya di tahun 2023 sudah membuat modeling di Biak, dan sudah bisa dievaluasi hasilnya, itu ada peningkatan pendapatan 2 kali lipat dibanding sebelumnya. Sebelum ada program sampai dengan setelah itu bisa kita bandingkan, bisa meningkat pendapatan lainnya 2 kali lipat, dari Rp 3.500.000 menjadi sekitar Rp 7.000.000," jelas Andi.
Tak hanya itu, pembangunan sistem rantai dingin (cold chain) membuat kualitas ikan lebih terjaga. Hasilnya, produk yang sebelumnya hanya dijual di pasar lokal kini sudah bisa menembus pasar industri di berbagai daerah.
"Serta tadinya ikan-ikan itu hanya bisa dijual di lokal, tetapi dengan pembangunan sistem rantai dingin yang baik, mutu ikan bisa menjadi lebih baik, dan dia bisa masuk dalam standar mutu untuk industri. Hal tersebut terbukti, saat ini ikan-ikan di Biak itu sudah bisa masuk ke perusahaan-perusahaan yang ada di Bitung, perusahaan-perusahaan yang ada di Semarang, perusahaan-perusahaan yang ada di Jakarta," tutupnya.
(ily/ara)










































