Kata Pemerintah soal Harta 50 Orang Terkaya Setara 55 Juta Warga

Kata Pemerintah soal Harta 50 Orang Terkaya Setara 55 Juta Warga

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 27 Apr 2026 19:00 WIB
Inilah cerita tentang kehidupan di Ibu Kota Jakarta yang sangat kontras dan tergambar jelas akan ketimpangan antara si kaya dan miskin lewat visualisasi ini.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menanggapi studi yang dilakukan Center of Economic and Law Studies (CELIOS) terkait ketimpangan di Indonesia. Dalam laporan itu, disebut kekayaan 50 orang terkaya setara dengan kekayaan 55 juta orang biasa.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto mengatakan pihaknya terbuka terhadap semua masukan. Penguraian ketimpangan disebut salah satu yang menjadi perhatian pemerintah.

"Pemerintah mencermati setiap studi sebagai bagian dari diskursus publik yang sehat. Kami terbuka terhadap masukan. Mengurai ketimpangan selalu menjadi perhatian dan perlu terus ditajamkan terhadap semua arah kebijakan yang sudah berjalan," kata Haryo kepada detikcom, Senin (27/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Haryo menyebut kebijakan ekonomi nasional saat ini banyak menjangkau lapisan terbawah sebagai wujud komitmen penguraian ketimpangan. Beberapa langkah yang sedang berjalan secara paralel yakni penguatan ekonomi desa melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).

"Sebanyak 80.081 KDMP telah berbadan hukum sejak Juli 2025, dengan skema pinjaman afirmatif hingga Rp 3 miliar per unit pada bunga 6% per tahun. Tujuannya memotong rantai tengkulak dan memperkuat akses petani dan UMKM desa terhadap pasar," ucap Haryo.

ADVERTISEMENT

Kemudian hadirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Per April 2026, MBG diklaim telah menjangkau 65,2 juta penerima dengan melibatkan lebih dari 46.000 UMKM dan menyerap sekitar 1,3 juta tenaga kerja.

"Hilirisasi sebagai jawaban struktural atas studi yang dilakukan. Sepanjang 2025, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp 584,1 triliun atau 30,2% dari total investasi nasional Rp 1.931,2 triliun, tumbuh 43,3% yoy. Tujuannya memastikan nilai tambah dari sumber daya alam berputar di dalam negeri dan menjangkau rantai usaha yang lebih luas," tambah Haryo.

Selain itu, pemerintah juga memperluas akses pembiayaan masyarakat melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diarahkan untuk menjangkau pelaku usaha mikro dan kecil. Pada triwulan I-2026, KUR telah disalurkan sebesar Rp 68,17 triliun kepada sekitar 1,11 juta debitur.

"Porsi signifikan penerima baru berasal dari kelompok desil 1-4. Melalui berbagai kebijakan seperti suku bunga rendah, prioritas debitur baru, penguatan KUR Super Mikro, serta peningkatan porsi sektor produksi, KUR menjadi instrumen pemerataan ekonomi yang memperluas kesempatan berusaha, meningkatkan pendapatan masyarakat bawah dan mendorong mobilitas ekonomi yang lebih inklusif," jelas Haryo.

Haryo mengklaim sejumlah indikator ekonomi telah menunjukkan arah perbaikan. Hal itu mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), di mana Gini Ratio per September 2025 turun ke 0,363, dari 0,375 di Maret 2025 dan 0,381 di September 2024. Di sisi lain, pengeluaran 40% kelompok terbawah naik menjadi 19,28%.

"Tentu Gini Ratio belum sepenuhnya menggambarkan kondisi masyarakat dan itu yang menjadi alasan pemerintah melakukan pendekatannya bersifat struktural, bukan jangka pendek," pungkasnya.

(aid/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads