PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MR.D.I.Y. Indonesia) resmi meluncurkan Waste Station di MRT Blok M, Jakarta, dalam rangka memperingati Hari Bumi 2026. Fasilitas ini dihadirkan sebagai wujud komitmen perseroan dalam mengatasi isu lingkungan, sekaligus menjadi solusi fungsional bagi pengunjung kawasan Blok M dan lebih dari 120 ribu penumpang MRT setiap hari.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, hingga akhir 2025 sampah yang belum terkelola di Indonesia masih mencapai 109.092 ton per hari, sementara Jakarta sendiri menghasilkan 7.100-8.000 ton sampah setiap harinya. Kondisi ini membuat kehadiran fasilitas pemilahan sampah di ruang publik menjadi semakin mendesak.
Waste Station yang dikembangkan bersama Rekosistem ini mampu menampung 120-150 kg sampah anorganik per hari. Masyarakat yang menyetorkan sampah terpilah akan mendapatkan poin reward melalui aplikasi Rekosistem yang dapat ditukarkan menjadi saldo dompet digital.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari Toko ke Ruang Publik: Konsistensi yang Terukur
Foto: MR DIY |
Chief Financial Officer MR.D.I.Y. Indonesia, Rika Juniaty Tanzil, mengatakan peluncuran ini merupakan bagian dari komitmen keberlanjutan perusahaan. Ia menyebut Waste Station menjadi kelanjutan upaya MR.D.I.Y. Indonesia dalam memperkuat ekosistem pengelolaan sampah yang nyata dan terukur melalui pilar keberlanjutan lingkungan dalam inisiatif 'MR.D.I.Y. Untuk Indonesia'.
"Keberlanjutan lingkungan adalah komitmen jangka panjang kami. Waste Station ini adalah langkah lanjutan setelah Recycle Dropbox yang kini hadir di 52 toko di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Kami ingin terus memudahkan masyarakat untuk memilah dan mengelola sampah secara bertanggung jawab, khususnya di titik publik dengan mobilitas tinggi seperti MRT Blok M," ujar Rika dalam keterangan tertulis, Senin (27/4/2026).
Foto: MR DIY |
Diketahui, sepanjang 2025, MR.D.I.Y. Indonesia telah mencatat sejumlah capaian lingkungan yang signifikan, diantaranya:
2.445 kg sampah terkumpul dari Recycle Dropbox di 52 toko (1.211 kg) dan aksi bersih pantai di Bulukumba bersama World Clean Up Day (1.234 kg)
84 ton limbah karton dimanfaatkan kembali dalam operasional logistik, mengurangi kebutuhan material baru
10 bank sampah diperkuat di Jabodetabek, disertai pelatihan bagi puluhan pengurusnya, bersama T.Care Foundation
300 bibit pohon ditanam di Taman Hutan Raya Banten bersama Jejakin, untuk memperkuat fungsi hutan sebagai kawasan pelestarian alam
Solusi yang Dirancang untuk Skala Kota
Lebih lanjut, Waste Station ini disebut berbeda dari inisiatif serupa karena mengusung pendekatan yang memadukan infrastruktur, teknologi, dan seni. Desain unitnya dibuat oleh seniman visual asal Yogyakarta, Wulang Sunu, dengan motif yang merepresentasikan tiga pilar 'MR.D.I.Y. Untuk Indonesia', yakni pemberdayaan perempuan dan anak, pemberdayaan usaha lokal, serta keberlanjutan lingkungan.
Fasilitas tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengelolaan sampah, tetapi juga menjadi representasi nilai-nilai Perseroan di ruang publik.
Sementara itu, Chief Operating Officer dan Co-Founder Rekosistem Joshua Valentino menyebut kolaborasi ini menyasar titik strategis untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat.
"Melalui kolaborasi ini, kami bisa menjangkau masyarakat di titik yang paling strategis di Jakarta," tuturnya.
"Dengan sistem yang terintegrasi dan insentif yang relevan, kami ingin membuktikan bahwa pilah sampah dari rumah bisa menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan beban," sambungnya.
Apresiasi juga disampaikan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta. Kepala Bidang Peran Serta Masyarakat, Data, dan Informasi Rommel PP Pasaribu menilai inisiatif ini sebagai contoh kolaborasi multipihak.
"Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan apresiasi kepada MR.D.I.Y. Indonesia dan Rekosistem atas inisiatif pembangunan Waste Station ini sebagai contoh konkret kolaborasi multipihak dalam mendukung Gerakan Memilah Sampah dari sumber. Semoga inisiatif kolaboratif ini menjadi inspirasi dan pemantik bagi pihak-pihak lain, baik sektor swasta, pelaku industri, maupun komunitas, untuk ikut bergerak bersama," ungkapnya.
Senada, Co-Founder Pandawara Group Muchamad Ikhsan Destian menekankan pentingnya perubahan kebiasaan dalam mengatasi persoalan sampah.
"Sampah adalah cermin dari kebiasaan kita. Perubahannya harus dimulai dari situ, dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Ketika fasilitas yang tepat tersedia di tempat yang tepat, perubahan itu jadi jauh lebih mungkin terjadi," tutupnya.
Ke depan, MR.D.I.Y. Indonesia menyatakan akan terus memperluas inisiatif serupa melalui kolaborasi lintas sektor, mulai dari aksi bersih lingkungan, penguatan pengelolaan sampah, hingga penanaman pohon sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan jangka panjang.


