3 Pencetus Gejolak Ekonomi Dunia
Selasa, 30 Okt 2007 11:37 WIB
Jakarta - Perekonomian dunia kini sedang menghadapi ketidakpastian, yang memaksa seluruh otoritas fiskal dan moneter di dunia untuk pasang alarm. Ketidakpastian perekonomian dunia itu terutama dipicu oleh 3 hal.Ketiga hal itu adalah pelemahan dolar AS, masalah krisis subprime mortgage dan lonjakan harga minyak mentah dunia. Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani disela-sela peringatan Hari Keuangan RI ke-61 yang digelar di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (30/10/2007). "Sekarang ini kan perekonomian global sangat tidak pasti dan tidak tentu. Banyak yang memberikan skenario yang sifatnya perlu kita waspadai terus menerus dari pelemahan US dolar, masalah subprime mortgage. Kemudian harga minyak yang tinggi," urainya.Menurut Sri Mulyani, untuk pelemahan dolar AS memang sudah diprediksi sebelumnya. "Karena perekonomian AS memiliki karakteristik defisit dari sisi anggaran maupun neraca pembayaran yang sudah lama," jelasnya.Interaksi ketiga faktor itu bisa memberikan dampak pada perekonomian dunia. Untuk itu, otoritas moneter dan fiskal di seluruh dunia telah melakukan berbagai tindakan untuk meminimalkan dampaknya."Namun apakah itu akan efektif atau tidak, kita harus melihat apa yang terjadi di global. Jadi ekonomi harus terus menerus kita pantau," jelasnya.Bagi Indonesia, ketiga faktor itu akan mempengaruhi perekonomian dari sisi ekspor. Khusus untuk lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini menembus level US$ 93 per barel, Sri Mulyani mengakui bahwa pemerintah tidak melakukan pemantauan khusus."Pemantauan itu kita lakukan setiap bulan. Jadi nggak pernah ada pemantauan dini secara khusus," ungkapnya. Menurutnya, pemantauan rutin itu dilakukan setiap bulan dalam rapat pimpinan (rapim) dan rapat joint dengan BI.Namun dipastikan beban APBN akan bertambah dengan meningkatnya subsidi seiring melonjaknya harga minyak mentah. Subsidi meningkat terutama untuk 3 komoditas BBM yakni minyak tanah, diesel dan premium, plus subsisi untuk PLN.Demikian pula bagi hasil dengan daerah penghasil minyak akan berubah. "Karena kalau harga minyak tinggi, tentu daerah tersebut akan mengkalkulasi penerimaan yang lebih tinggi. Nah, itu akan memberikan dampak terhadap struktur APBN. Jadi bagaimanapun akan kita pantau terus menerus," pungkasnya.
(qom/ir)











































