Harga Minyak Bisa Goyang Ekspansi Ekonomi RI 2007-2008
Rabu, 31 Okt 2007 10:37 WIB
Jakarta - Prospek perekonomian Indonesia pada 2007-2008 diperkirakan masih membaik. Ekspansi perekonomian diperkirakan masih berlanjut, dengan tekanan inflasi yang semakin meningkat. Namun tren peningkatan harga minyak dunia dapat mempengaruhi prospek tersebut.Demikian diungkapkan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Miranda Goeltom dalam Round Table Discussion Ke-5 PPSK-BI 'Pemberdayaan Sektor Riil Untuk Mempercepat Pertumbuhan Ekonomi Melalui Peningkatan Koordinasi Kebijakan Fiskal dan Moneter' di Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Rabu (31/10/2007)."Kenaikan harga minyak dunia diperkirakan masih berdampak netral terhadap APBN meski perkembangan konsumsi BBM bersubsidi, produksi minyak dan kenaikan subsidi PLN perlu dicermati karena dapat mengganggu prospek APBN dan kesinambungan fiskal," urainya.Ditambahkannya, meskipun kenaikan harga minyak dunia akan meningkatkan surplus NPI (Neraca Pembayaran Indonesia), namun ada berbagai risiko yang perlu dicermati. Diantaranya adalah penurunan volume perdagangan dunia, peningkatan konsumsi BBM dan perubahan sentimen terhadap kesinambungan fiskal."Prospek NPI diperkirakan mengakibatkan nilai tukar relatif stabil, meski risiko pada NPI tetap perlu mendapat perhatian, peningkatan harga minyak dunia bersama dengan peningkatan harga komoditas primer global berisiko meningkatkan tekanan inflasi," jelasnya.Menurut Miranda kenaikan harga minyak berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi 2008 sehingga lebih rendah dari proyeksi semula 6,5 persen.Dengan demikian, lanjut Miranda, dengan mempertimbangkan risiko perekonomian yang bersumber dari dampak kenaikkan harga minyak tersebut, maka kebijakan makroekonomi yang berhati-hati tetap perlu dilanjutkan."Kebijakan tersebut juga didukung kebijakan strategis lainnya agar tetap mampu menciptakan persepsi positif terhadap prospek perekonomian," katanya.
(dnl/qom)











































