Minyak Bisa Pangkas Pertumbuhan Ekonomi 2008 di Bawah 6,5%
Rabu, 31 Okt 2007 10:52 WIB
Jakarta -
Jika harga minyak mentah dunia terus-terusan melonjak, maka prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih rendah dari proyeksi semula 6,5%.Padahal sebenarnya prospek perekonomian Indonesia pada 2007-2008 diperkirakan masih membaik, dengan ekspansi yang terus berlanjut.Demikian diungkapkan oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom dalam Round Table Discussion Ke-5 PPSK-BI 'Pemberdayaan Sektor Riil Untuk Mempercepat Pertumbuhan Ekonomi Melalui Peningkatan Koordinasi Kebijakan Fiskal dan Moneter' di Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Rabu (31/10/2007)."Kenaikan harga minyak dunia diperkirakan masih berdampak netral terhadap APBN meski perkembangan konsumsi BBM bersubsidi, produksi minyak dan kenaikan subsidi PLN perlu dicermati karena dapat mengganggu prospek APBN dan kesinambungan fiskal," urainya.Berdasarkan simulasi pengaruh harga minyak dunia terhadap pertumbuhan ekonomi 2008 yakni:Jika harga minyak US$ 60, maka pertumbuhan 6,54%, harga US$ 68 pertumbuhan 6,3%, harga minyak S$ 70 pertumbuhan 6,24%, harga minyak US$ 75 pertumbuhan 6,09%, harga minyak US$ 80 pertumbuhan 5,94%, harga minyak US$ 85 pertumbuhan 5,79%, harga minyak US$ 90 pertumbuhan 5,64%, harga minyak US$ 95 pertumbuhan 5,49%.Dikatakannya bahwa berdasarkan estimasi Departemen Keuangan, APBN akan surplus Rp 50 miliar untuk setiap kenaikan US$ 1 per barel, penerimaan migas dan PPh migas sebesar Rp 3,45 triliun, pengeluaran subsidi dan DBH (Dana Bagi Hasil) meningkat sebesar Rp 3,4 triliun."Namun dampak positif tercapai jika permintaan konsumsi BBM tidak naik signifikan sementara produksi minyak minimal 1,034 juta barel per hari," jelasnya.Berdasarkan perkembangan terakhir, kata Miranda, produksi minyak Indonesia hanya sebesar 952 ribu barel per hari. Miranda menambahkan, kenaikan harga minyak dunia juga akan meningkatkan surplus NPI (Neraca Pembayaran Indonesia)."Untuk setiap kenaikan US$ 1 per barel, pada triwulan IV 2007 akan meningkatkan surplus transaksi berjalan sebesar USD 23,3 juta dan cadangan devisa sebesar US$ 35,6 juta," jelasnya.Namun menurut Miranda, dampak positif terhadap NPI dapat tercapai jika permintaan konsumsi minyak domestik tidak meningkat yang diasumsikan 396,2 juta barel pada 2008. Meski demikian, ada berbagai risiko yang perlu dicermati diantaranya adalah penurunan volume perdagangan dunia, peningkatan konsumsi BBM dan perubahan sentimen terhadap kesinambungan fiskal."Prospek NPI diperkirakan mengakibatkan nilai tukar relatif stabil, meski risiko pada NPI tetap perlu mendapat perhatian, peningkatan harga minyak dunia bersama dengan peningkatan harga komoditas primer global berisiko meningkatkan tekanan inflasi," jelasnya.Dengan mempertimbangkan risiko perekonomian yang bersumber dari dampak kenaikkan harga minyak tersebut, lanjut Miranda, maka kebijakan makroekonomi yang berhati-hati tetap perlu dilanjutkan."Kebijakan tersebut juga didukung kebijakan strategis lainnya agar tetap mampu menciptakan persepsi positif terhadap prospek perekonomian," katanya.
(dnl/qom)










































