Inflasi 2008 Bisa Naik Jadi 6,4%
Rabu, 31 Okt 2007 11:02 WIB
Jakarta - Peningkatan harga minyak dunia bersama dengan peningkatan harga komoditas primer global beresiko meningkatkan tekanan inflasi. Peningkatan resiko inflasi didorong kenaikan imported inflatio terkait kenaikan harga minyak dan harga komoditas primer global.Hal itu bisa disampaikan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom dalam Round Table Discussion Ke-5 PPSK-BI 'Pemberdayaan Sektor Riil Untuk Mempercepat Pertumbuhan Ekonomi Melalui Peningkatan Koordinasi Kebijakan Fiskal dan Moneter' di Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Rabu (31/10/2007)."Hasil kajian menunjukkan bahwa inflasi 2008 berpotensi berada di atas sasarannya (5 plus minus persen) di sekitar 6,4 persen jika harga minyak rata-rata mencapai US$ 75 per barel," ujar Miranda.Proyeksi kenaikan inflasi itu dengan asumsi pemerintah tidak menaikkan harga minyak bersubsidi di dalam negeri.Selain itu, kata Miranda, kenaikkan harga minyak berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi 2008 lebih rendah dari proyeksi semula 6,5 yang disebabkan penurunan konsumsi swasta. Hal itu dipengaruhi oleh penurunan daya beli akibat peningkatan inflasi dan dampak langsung kenaikan harga barang impor."Lalu terjadinya penurunan investasi swasta akibat permintaan domestik yang menurun," jelasnya.
(dnl/qom)











































