Fokus Amerika Serikat (AS) ke krisis di Timur Tengah dinilai berpotensi mengurangi perannya di Asia Tenggara. Kondisi ini disebut bisa membuka ruang bagi China untuk memperluas pengaruh, termasuk di sektor ekonomi kawasan ASEAN.
Pengamat yang tergabung dalam Forum Sinologi Indonesia (FSI) menilai, berkurangnya perhatian AS dapat berdampak pada dinamika kawasan, termasuk ketegangan di Laut China Selatan yang turut memengaruhi stabilitas ekonomi.
Ketua FSI Johanes Herlijanto mengatakan China dalam dua dekade terakhir menunjukkan sikap asertif terhadap sejumlah negara di Asia Tenggara, seperti Vietnam, Indonesia, dan Filipina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"China telah bersitegang dengan sejumlah negara ASEAN terkait klaim wilayah Zona Ekonomi Eksklusif yang didasarkan pada konsep sembilan garis putus-putus," ujarnya di Jakarta, ditulis Sabtu (2/5/2026).
Ia menjelaskan klaim tersebut kerap dipandang bertentangan dengan UNCLOS oleh negara-negara di kawasan. Peneliti mitra FSI Ratih Kabinawa menilai, strategi China tidak hanya melalui pendekatan keamanan, tetapi juga ekonomi dan diplomasi bilateral.
"China cenderung meningkatkan kedekatan dengan negara yang sedang menjabat sebagai ketua ASEAN untuk memengaruhi arah kebijakan organisasi," kata Ratih.
Menurutnya, pendekatan ini tetap berpotensi dilakukan meski saat ini keketuaan ASEAN dipegang Filipina.
Ratih juga menyoroti kemungkinan China memanfaatkan sektor energi sebagai pintu masuk kerja sama ekonomi, salah satunya melalui tawaran eksplorasi bersama. "Jika tidak hati-hati, hal itu bisa menghambat penyelesaian COC yang selama ini menjadi prioritas ASEAN," ujarnya.
Direktur Kerja Sama Politik Keamanan ASEAN Ahmad Shaleh Bawazir menilai hubungan China dan ASEAN berjalan intensif, termasuk di sektor ekonomi, namun masih diwarnai ketidakpercayaan. "Hubungan China dan ASEAN sangat intensif dalam berbagai sektor, tetapi di sisi lain tingkat kepercayaan masih belum memadai," kata dia.
Menurut Ahmad, ketegangan di Laut China Selatan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi hubungan tersebut. Meski begitu, ia menilai peluang penyelesaian Code of Conduct (COC) masih terbuka.
Akademisi hubungan internasional Klaus Heinrich Raditio menilai penyelesaian COC dalam waktu dekat masih menghadapi tantangan. "Posisi China di Laut China Selatan sudah cukup kuat, sementara dinamika global juga memengaruhi proses negosiasi," ujarnya.
Ia menambahkan, soliditas negara-negara ASEAN menjadi faktor penting dalam menghadapi dinamika tersebut, termasuk dalam menjaga stabilitas ekonomi kawasan.
Klaus juga menilai Indonesia memiliki peran dalam menjaga keseimbangan di ASEAN.
"Indonesia diharapkan mampu menjadi penggerak utama dalam menjaga persatuan ASEAN di tengah dinamika geopolitik global," kata Klaus.
(fdl/fdl)










































