Pertamina Diharamkan Pakai Tabung Elpiji Impor

Pertamina Diharamkan Pakai Tabung Elpiji Impor

- detikFinance
Kamis, 01 Nov 2007 11:58 WIB
Jakarta - Dua kontainer tabung gas elpiji milik Global Pacific Energy (GPE) diminta segera direekspor. Pertamina juga diharamkan memakai tabung impor. "Mereka (GPE) tidak bisa dikenakan sanksi pidana karena impor tabung tidak dilarang, tapi saya sudah kirim surat ke Bea cukai sejak hari Senin untuk mereekspor tabung tersebut," kata Menteri Perindustrian Fahmi Idris.Ia menyampaikan hal itu dalam jumpa pers khusus menanggapi masuknya tabung elpiji impor, di gedung depperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (1/11/2007)."Pertamina kalau menggunakan tabung tersebut hukumnya haram. Kalau Pertamina menggunakan berarti melanggar Keppres No 80 tahun 2003 tentang penggunaan produksi dalam negeri," imbuhnya.Menurutnya, pemerintah maupun BUMN apabila melakukan pengadaan barang, acuannya adalah keppres No 80 tahun 2003 tentang pengadaan barang dan jasa yang mengutamakan produk dalam negeri.Kasus masuknya dua kontainer milik GPE ini, menurut Fahmi, harus ditafsirkan secara kontekstual. "Memang impor tabung tidak dilarang, namun kalau mengacu pada Keppres ini impor jadi terlarang," ujarnya.Fahmi mengatakan, dalam pembicaraan dengan Pertamina pada pada Rabu kemarin (31/10/2007), kontrak pengadaan gas 10 juta tabung disepakati diperpanjang hingga Februari 2008."Itu sudah diperpanjang sampai Februari, karena alasannya logis itu diterima Pertamina, agar produsen bisa memenuhi target, saya sudah kirim permintaan itu ke Pertamina dan Wapres sebelumnya," jelas Fahmi.Produsen tabung dalam negeri sempat menyetop produksi selama satu bulan. Ini terkait dua alasan yaitu gudang Pertamina sudah penuh sehingga Pertamina menyetop delivery hingga 1,5 bulan. Selain itu alasan Pertamina adanya reaksi penolakan konversi minyak tanah dan gas."Dengan lebih mengutamakan produksi dalam negeri, Pertamina telah sesuai dengan program SBY-JK. Program SBY-JK itu pro growth, pro job, pro poor. Sehingga ada pertumbuhan ekonomi dan menciptakan kesempatan kerja dan akhirnya kemiskinan bisa ditekan. Kalau kita belinya barang impor, tiga-tiganya tidak bisa tercapai, karena barang yang dibikin itu barang yang sangat sederhana," tutur Fahmi. (ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads