Pertamina dan Mitos Kebakaran

Pertamina dan Mitos Kebakaran

- detikFinance
Kamis, 01 Nov 2007 14:48 WIB
Jakarta - Pertamina beberapa kali mengalami kebakaran seperti di kantor pusat dan kilang Balongan. Kebakaran ini kata Menteri Perindustrian Fahmi Idris karena Pertamina kualat dengan pengusaha kecil tabung elpiji.Pertamina kata Fahmi, kena batunya karena terus ngotot melakukan impor tabung elpiji 3 kg. Padahal industri dalam negeri mampu membuat tabung tersebut."Kenapa sih Pertamina hobi betul impor. Seolah-olah kapasitas dalam negeri bagi Pertamina itu tidak mampu. Itu yang mengesalkan hati saya, apalagi itu bertentangan dengan Keppres No 80 tahun 2003. Itu kan sewenang-wenang, Syukur Alhamdulilah impor ini dibatalkan," kata Fahmi dalam jumpa pers di gedung depperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (1/11/2007).Fahmi yang masih sewot dengan temuan dua kontainer berisi tabung elpiji 3 kg, berseloroh jangan-jangan kebakaran yang sering melanda Pertamina karena selalu ngotot ingin impor tabung elpiji. "Dulu kasus ini pernah muncul sekitar bulan Mei, waktu itu saya bersikeras melarang impor, tahu nggak apa yang terjadi? Lantai 19 gedung Pertamina kebakaran," kata Fahmi sambil melotot.Fahmi kemudian melanjutkan ceritanya. "Begitu juga selanjutnya waktu mereka bilang mau impor lagi, saya bersikeras jangan diimpor. Apa yang terjadi? Indramayu Balongan terbakar. Saya bilang ini kualat dengan pengusaha kecil, karena rezekinya diambil importir. Kalau yang ini jadi impor lagi saya tidak tahu apalagi yang terjadi. Jangan-jangan orangnya yang kebakar," tutur Fahmi panjang lebar.Memang kata Fahmi, impor tidak dilarang. Tapi berdasarkan aturan pengadaan kompor dan ketentuan hukum yang ada, maka kalau ada yang memasukkan tabung elpiji ke Pertamina sebagai pembelinya itu batal demi hukum.Menurutnya, pemerintah maupun BUMN apabila melakukan pengadaan barang, acuannya adalah keppres No 80 tahun 2003 tentang pengadaan barang dan jasa yang mengutamakan produk dalam negeri. (ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads