Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh 5,61% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan itu lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87%.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini terutama ditopang oleh aktivitas ekonomi domestik. Jika dilihat dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB).
"Komponen pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB adalah konsumsi rumah tangga dengan kontribusi sebesar 54,36% dan tumbuh 5,52%" kata Amalia dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sumber pertumbuhan berikutnya berasal dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 5,96%. Angka ini didorong oleh investasi pemerintah, antara lain pembangunan terkait prioritas nasional, salah satunya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai pendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Pertumbuhan jumlah SPPG ini berdampak positif terhadap PMTB karena ada konstruksi fisik di situ. Pada triwulan I-2026 sampai dengan Maret 2026 dibandingkan Desember 2025, terjadi penambahan SPPG baru sebanyak 6.737 unit," ungkap Amalia.
Amalia menyebut investasi SPPG itu dicatat BPS sebagai bagian dari belanja modal, baik untuk pembangunan dapur maupun penyediaan alat-alat pendukungnya.
"Investasi SPPG ini kami rekam dalam belanja modal, baik untuk pembangunan dapur dan penyediaan alat-alat dapur, serta belanja alat modal lainnya. Jadi yang masuk ke dalam PMTB itu selain bangunan dapurnya, juga alat-alat dapur dan alat modal lainnya," kata Amalia.
Selain itu, sorotan besar juga datang dari konsumsi pemerintah. Komponen ini mencatat pertumbuhan paling tinggi dibandingkan komponen pengeluaran lainnya, dengan pertumbuhan mencapai 21,81%.
Lonjakan belanja pemerintah tersebut tidak lepas dari percepatan belanja negara pada awal tahun. BPS menjelaskan kenaikan itu didorong oleh realisasi belanja pegawai, terutama pembayaran gaji ke-14 atau Tunjangan Hari Raya (THR) pada periode Ramadan dan Lebaran.
Selain itu, dorongan juga datang dari belanja barang dan jasa, terutama belanja barang yang diserahkan kepada masyarakat melalui program MBG. Dampak MBG juga mulai terlihat pada sejumlah sektor usaha, salah satunya sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh tinggi pada kuartal I-2026.
"Penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 13,14% karena MBG dan libur nasional," beber Amalia.
Dampak program MBG juga terlihat dari sisi konstruksi, terutama terkait pembangunan infrastruktur pendukung program tersebut.
"Konstruksi tumbuh sejalan dengan peningkatan realisasi anggaran belanja modal pemerintah, peningkatan aktivitas konstruksi swasta, salah satunya karena SPPG dan Kopdes, serta meningkatnya bahan baku konstruksi," kata Amalia.
Lihat juga Video BPS: Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I 2026











































