Konflik di Timur Tengah yang sedang terjadi disebut-sebut berpotensi menimbulkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, khususnya pada beberapa sektor industri Indonesia. Hal ini diakui oleh Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang.
Ketika ditanya terkait potensi PHK tersebut, Agus tak menampiknya. Ia mengatakan kondisi ini dihadapi oleh banyak negara dan sektor manufaktur memang perlu mendapatkan perhatian serius.
"Kita ini sekarang dalam kondisi yang memang harus diberi perhatian, dan yang menghadapi kondisi ini bukan hanya Indonesia," kata Agus kepada wartawan di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, saat ini sektor manufaktur dalam negeri sedang menghadapi berbagai tekanan, mulai dari rantai pasok, harga bahan baku produksi, hingga pelemahan pasar. Namun, ia meyakini kondisi ini hanya bersifat sementara, mengingat mayoritas tekanan berasal dari faktor global.
"Tekanan terhadap market, ada tekanan terhadap bahan baku. Itu memang dihadapi oleh semua negara, semua pihak, dan saya yakin ini sifatnya sementara. Saya yakin," jelasnya.
Baca juga: Tanda Tanya Buruh soal Satgas PHK |
Agus percaya industri dalam negeri mampu bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global saat ini. Sebab, menurutnya, kondisi seperti ini bukanlah kali pertama sektor manufaktur mengalami tekanan.
"Saya tetap percaya dengan resiliensi sektor manufaktur. Kita sudah berkali-kali mengalami krisis dengan magnitude yang luar biasa, terakhir COVID-19, di mana teman-teman manufaktur bisa menunjukkan resiliensinya," tegas Agus.
Sebelumnya, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengingatkan adanya potensi PHK massal dalam tiga bulan ke depan imbas pecahnya konflik di Timur Tengah. Informasi ini didapat dari para buruh di lapangan.
Serikat pekerja disebut sudah diajak berdiskusi oleh perwakilan perusahaan terkait potensi pengurangan tenaga kerja. Menurut Presiden KSPI Said Iqbal, ancaman PHK paling terasa di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), termasuk benang, kain, hingga polyester.
"Tapi realitanya, laporan dari anggota KSPI, bukan orang lain, serikat pekerja di perusahaan, terutama di sektor industri TPT, tekstil dan produk turunannya. Benang, kain, dan polyester, dan sebagainya," katanya dalam konferensi pers virtual, Senin (4/5/2026).
Sektor kedua yang terancam melakukan PHK adalah industri plastik akibat lonjakan harga bahan baku impor. Industri ini menghadapi tekanan karena biaya produksi meningkat seiring pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Dampak lanjutan juga bisa merembet ke industri lain seperti elektronik dan otomotif yang banyak menggunakan komponen berbahan plastik. Selain itu, sektor semen juga menghadapi tekanan akibat kelebihan pasokan (oversupply) seiring permintaan yang melemah akibat konflik.











































