Kisruh Impor Tabung Elpiji, Pertamina Tuntut GPE
Jumat, 02 Nov 2007 11:52 WIB
Jakarta -
Pertamina akan menuntut Global Pacific Energy (GPE) yang menjadi pengimpor ribuan tabung elpiji ukuran 3 kg asal China.GPE yang memang merupakan salah satu rekanan perusahaan Pertamina, dinilai telah memalsukan logo Pertamina yang tertera di tabung elpiji 3 kg yang diimpor dari China itu.Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Faisal menegaskan, Pertamina tidak pernah mengeluarkan LC impor ataupun menunjuk pihak lain untuk mengimpor tabung tersebut.Jika benar di tabung tersebut ada logo Pertamina, kata Ahmad, maka GPE merupakan oknum yang memanfaatkan kesempatan kebutuhan tabung dalam negeri yang meningkat."Kita serahkan ke polisi kita akan tuntut mereka karena menggunakan logo Pertamina, itu pemalsuan namanya," kata Ahmad ketika dihubungi detikFinance, Jumat (2/11/2007).Ketika ditanya bukankan selama ini GPE adalah perusahaan rekanan untuk keperluan barang impor Pertamina, Ahmad mengakuinya. Tapi untuk impor tabung elpiji ditegaskan Ahmad, Pertamina tidak pernah melakukan order ke GPE."Boleh-boleh saja kan kalau dia memasok Pertamina, tapi untuk masalah tabung karena saya yang berwenang mengeluarkan LC, kalau GPE itu tidak pernah ada didaftar pabrikan yang memasok tabung untuk kita," jelas Ahmad.Pertamina juga akan melakukan rapat dengan Menteri Perindustrian mengenai kasus impor tabung elpiji yang menyeret perusahaan BUMN itu. "Hari Senin nanti (5/11/2007) Menperin mengundang kita. Pertamina akan jelaskan bahwa Pertamina sama sekali tidak terkait dengan impor tabung tersebut," ucapnya.Pertamina menurutnya, memiliki standar prosedur untuk pengadaan barang termasuk setiap LC yang dikeluarkan."Baik LC ataupun penunjukkannya, Pertamina tidak pernah mengeluarkan sampai sejauh ini. Jadi kalau dikatakan Pertamina terkait masalah ini itu sama sekali tidak benar," katanya.Yang jelas lanjut Ahmad, ada oknum yang memanfaatkan kesempatan akan tingginya kebutuhan tabung elpiji di Indonesia."Harga di China itu kan lebih murah bisa saja dia beli di China lalu jual mahal disini, kalau masalah logo semua orang bisa bikin logo," cetusnya.
(ir/qom)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































