Tren Digitalisasi UMKM Salon RI, dari Buku Catatan ke Platform Terintegrasi

Tren Digitalisasi UMKM Salon RI, dari Buku Catatan ke Platform Terintegrasi

Inkana Putri - detikFinance
Jumat, 08 Mei 2026 12:38 WIB
Ilustrasi Digitalisasi UMKM
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Industri salon dan kecantikan di Indonesia mulai memasuki fase baru. Setelah sektor kuliner dan ritel lebih dulu beralih ke sistem digital, kini salon, barbershop, hingga klinik kecantikan juga mulai meninggalkan pencatatan manual dan beralih ke platform yang lebih terintegrasi.

Salah satu pemain yang menggarap segmen ini adalah Kasera, platform manajemen salon yang dirancang khusus untuk pelaku UMKM kecantikan di Indonesia.

Pendekatan vertikal seperti ini mulai menjadi tren di industri Software as a Service (SaaS) lokal. Alih-alih menggunakan POS umum, pemilik salon kini mencari sistem yang memahami alur kerja spesifik industri, mulai dari pengaturan jadwal stylist, perhitungan komisi, hingga konfirmasi pemesanan melalui WhatsApp.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tiga Faktor Utama Transformasi Digital UMKM Salon

Setidaknya ada tiga tekanan yang mendorong pemilik salon UMKM beralih ke sistem digital.

ADVERTISEMENT

Pertama, jadwal booking yang sering berantakan. Salon yang mengandalkan pencatatan manual rentan mengalami double booking atau pelanggan lupa datang. Dengan sistem booking online dan konfirmasi otomatis, masalah seperti ini bisa lebih mudah dikurangi.

Kedua, kebocoran kas. Tip stylist, komisi layanan, deposit pemesanan, dan pendapatan kotor sering bercampur dalam satu kotak kas. Sistem POS modern membantu memisahkan komponen-komponen ini secara otomatis sehingga lebih mudah dipantau.

Ketiga, sulitnya memantau performa tim. Bagi salon yang memiliki beberapa stylist, menghitung kontribusi masing-masing secara manual tentu memakan waktu dan cukup merepotkan.

QRIS Percepat Digitalisasi Salon

Adopsi QRIS oleh konsumen juga ikut mempercepat seluruh proses digitalisasi ini. Saat pelanggan telah terbiasa dengan pembayaran nontunai, salon yang hanya menerima tunai mulai kehilangan transaksi.

Setelah memasang QRIS, pemilik salon menyadari bahwa rekonsiliasi pembayaran digital lebih efisien jika terhubung langsung dengan POS, bukan dicatat ulang manual di sore hari. Dari sinilah digitalisasi pembayaran sering menjadi pintu masuk menuju digitalisasi operasi yang lebih luas.

Peluang SaaS Salon Masih Terbuka

Saat ini, pasar SaaS untuk salon di Indonesia masih terfragmentasi. Tidak ada pemain dominan, dan sebagian besar salon UMKM belum tersentuh platform manajemen apa pun. Pola yang sama pun pernah terjadi di sektor F&B sebelum kategori POS untuk restoran tumbuh pesat.

Jika polanya berulang, vertikal salon dan kecantikan berpotensi menjadi gelombang adopsi SaaS berikutnya, terutama untuk pemain lokal yang memahami struktur layanan, tarif, dan alur transaksi industri ini.

(akd/ega)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads