Pajak Perusahaan Minyak Asing Harus Dinaikkan
Sabtu, 03 Nov 2007 11:46 WIB
Jakarta - Kenaikan harga minyak mentah dunia memberi ancaman serius. Salah satu cara untuk meredam dampaknya adalah menaikkan pajak perusahaan-perusahaan minyak asing di Indonesia yang kini sedang bergelimang windfall profit.Demikian dikatakan oleh Pengamat Perminyakan Kurtubi dalam diskusi yang diadakan di sebuah cafe di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (3/11/2007)."Hal ini untuk menambah porsi penerimaan pajak pemerintah karena kan mereka (perusahaan minyak asing) mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga ini, dan hal ini sudah umum terjadi dan wajar bagi perusahaan minyak itu untuk memberikan kontribusinya kepada APBN," tuturnya.Sementara Direktur Perencanaan Makro Bapenas Bambang Prijambodo mengatakan, pemerintah akan berusaha meningkatkan kapasitas produksi minyak mentah di Indonesia. "Di tahun ini kami juga akan mendorong agar kapasitas produksi minyak 1,304 juta barel akan tercapai, dan di tahun depan kami rencanakan untuk ditingkatkan," jelasnya. Untuk peningkatan produksi ini, Bambang menuturkan bahwa DPR telah menyetujui anggaran untuk peningkatan kapasitas produksi minyak Indonesia. "Jadi di tahun depan, kami akan mengamankan APBN dari kenaikan harga minyak yang terjadi," imbuhnya. Selain meningkatkan kapasitas produksi, program konversi minyak tanah ke elpiji akan dilanjutkan. "Di tahun depan program-program seperti konversi akan makin ditingkatkan untuk penghematan penggunaan minyak," tuturnya.Kurtubi menambahkan, pemerintah perlu mengubah manajemen perminyakan di Indonesia agar tidak perlu pontang-panting saat harga melonjak. "Hal ini agar proses divestasi tidak panjang birokrasinya, karena inilah yang menyebabkan selama 7 tahun kita tidak mempunyai sumber minyak baru, dan hanya mengandalkan kilang-kilang tua yang sudah hampir habis," ujarnya.Terkait lonjakan harga minyak dunia, Kurtubi mengatakan bahwa OPEC sudah menambah produksi, demikian pula negara-negara non OPEC sudah maksimal memanfaatkan kapasitas produksinya. "Negara seperti Rusia, Meksiko, Brazil dan Kazhakstan sudah full capacity sehingga mereka menyerah untuk tingkatkan produksi, hal inilah yang menyebabkan permintaan meningkat dan harga minyak US$ 100 per barel tinggal menghitung hari saja," jelasnya.
(dnl/qom)











































