Bos Danantara Buka Suara soal Caplok Saham Eramet di Weda Bay Nickel

Bos Danantara Buka Suara soal Caplok Saham Eramet di Weda Bay Nickel

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 12 Mei 2026 21:24 WIB
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani sekaligus CEO Danantara.Foto: Rusman - Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

CEO Danantara Rosan Roeslani buka suara soal rencana caplok saham perusahaan Prancis Eramet pada perusahaan nikel di Weda Bay, tepatnya PT Weda Bay Nickel (WBN).

Rosan bilang akuisisi saham memang terbuka lebar. Pihaknya sudah memulai diskusi dengan Eramet, dan menekankan bahwa Danantara siap menjadi mitra kuat dari Indonesia untuk proyek pengembangan nikel tersebut.

"Kita sih pada dasarnya terbuka, ya atas diskusi kemudian pembicaraan mengenai investasi yang ada di Indonesia dan kita kan Danantara ini bisa menjadi strong local partner juga, kan ya. Kita terbuka, kok. Kita diskusi juga dengan Eramet," jelas Rosan di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekadar informasi, Weda Bay Nickel telah beroperasi sejak 2019 melalui izin usaha pertambangan khusus (IUPK), dan akan beroperasi hingga 2069.

Perusahaan ini dioperasikan oleh Thingshan Group, perusahaan asal China yang memiliki porsi 51,2% saham, Eramet (asal Prancis) 37,8%, dan sisanya di miliki oleh perusahaan pelat merah Indonesia, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) atau Antam dengan porsi 10%.

ADVERTISEMENT

Sebelumnya, tahun lalu, BPI Danantara melakukan kerja sama investasi ke proyek hilirisasi nikel dengan raksasa tambang Prancis, Eramet. Danantara dan Eramet sepakat menjajaki pembentukan platform investasi strategis di sektor nikel, dari operasi hulu hingga hilir.

Penandatanganan kerja sama ini disaksikan secara langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron di sela pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Kemitraan ini bertujuan untuk mengembangkan ekosistem bahan baku baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang berkelanjutan dan terintegrasi di Indonesia.

Para pihak akan melakukan penilaian awal guna mengidentifikasi proyek paling tepat untuk memaksimalkan potensi ekosistem EV nasional, sekaligus menyiapkan peta jalan untuk kolaborasi ke depan. Dalam penerapan kerja sama ini, para pihak sepakat pengelolaan aset tidak hanya harus mengedepankan efisiensi dan nilai ekonomi, tetapi juga harus berlandaskan standar internasional yang ketat.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir meyakini kemitraan ini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat global dalam rantai pasok baterai EV.

Pandu menjelaskan bahwa dalam kemitraan ini, Danantara akan mengelola pembiayaan jangka panjang untuk mendukung pengembangan investasi, sementara Eramet berkontribusi melalui keahlian teknis dan pengalaman dalam menjalankan proyek pertambangan skala besar sesuai standar berkelanjutan internasional.

"Kemitraan ini mencerminkan komitmen untuk mendorong investasi hilirisasi nikel kelas dunia di Indonesia, yang merupakan salah satu pilar utama dalam memperkuat daya saing industri nasional. Kolaborasi ini juga mengintegrasikan kapasitas teknis tingkat global di bidang tambang berwawasan lingkungan yang mendukung pembangunan industri berkelanjutan," tambah Pandu.



(hal/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads