Minah Subsidi Diselewengkan, Negara Rugi Rp 16 Triliun
Senin, 05 Nov 2007 14:24 WIB
Jakarta -
Sekitar 30%-40% minyak tanah (minah) bersubsidi diselewengkan. Akibatnya, subsidi negara sebesar Rp 16 triliun hilang begitu saja. Dirut Pertamina Ari Soemarno menjelaskannya dalam rapat bersama mengenai pengadaan tabung elpiji program konversi minyak tanah ke elpiji di departemen Perindustrian, Jakarta, Senin (5/11/2007). "Dari pengamatan kita, sekitar 30-40 persen minyak tanah tidak sampai untuk masyarakat yang pengguna. Tapi banyak dicampur solar, masuk ke industri. Bayangkan kalau itu 30%, kita bicara subsidi Rp 12-15 triliun yang hilang begitu saja," katanya. Ari melanjutkan, pemikiran itulah yang mendasari program konversi yang dicanangkan sejak lama, tapi baru direspons tahun 2006. Elpiji dipilih karena dinilai lebih bersih, lebih ramah lingkungan, nilai bakarnya lebih tinggi, dan lebih hemat. Dan terutama, sulit diselewengkan. Tidak seperti minyak tanah. Ia juga menegaskan, bahwa tingkat keamanan penggunaan elpiji lebih baik dari kompor minyak tanah. "Ledakan dan kebakaran akibat kompor gas jauh lebih sedikit dibanding kompor minyak tanah," katanya.
(lih/qom)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































