Apakah Ekonomi RI Masih Tahan Banting?

Apakah Ekonomi RI Masih Tahan Banting?

Andi Hidayat - detikFinance
Kamis, 14 Mei 2026 12:05 WIB
Hingga kuartal III 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5,04%. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini ekonomi di kuartal IV akan melonjak hingga di kisaran 5,7%.
Foto: Andhika Prasetia
Jakarta -

Bank DBS Indonesia menilai perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang solid di tengah tekanan geopolitik global dan fluktuasi harga energi. Meski demikian, pemerintah dinilai perlu menyesuaikan target pertumbuhan ekonomi seiring meningkatnya berbagai risiko global.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) di kuartal pertama 2026. Angka ini membuktikan pertumbuhan tercepat sejak kuartal ketiga 2022.

DBS Group Research menilai fundamental ekonomi RI masih sangat solid di tengah volatilitas global. Namun, dinamika pada semester kedua 2026 tetap perlu diantisipasi secara hati-hati.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, menjelaskan Indonesia memulai tahun ini dengan fondasi ekonomi positif yang ditopang oleh konsumsi domestik, stimulus fiskal pemerintah, peningkatan belanja negara, dan momentum musiman hari besar keagamaan.

Radhika mengatakan, terdapat risiko eksternal yang membuat proyeksi pertumbuhan tahunan perlu disesuaikan. Penyesuaian ini perlu untuk mengantisipasi pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga energi.

ADVERTISEMENT

"Indonesia memasuki 2026 dengan percaya diri didukung fundamental yang kuat. Namun, proyeksi pertumbuhan setahun penuh tetap perlu disesuaikan menjadi 5,1% (dari sebelumnya 5,3%) guna mengantisipasi risiko kenaikan harga energi global dan tekanan pada nilai tukar Rupiah," ujar Radhika dalam keterangan tertulisnya, dikutip Kamis (14/5/2026).

Radhika menilai pertumbuhan ekonomi RI di kuartal I-2026 kemungkinan menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini. Pasalnya ke depan aktivitas ekonomi diperkirakan menghadapi tekanan tinggi imbas harga energi global, volatilitas pasar keuangan, dan kebutuhan menjaga disiplin fiskal nasional.

DBS menilai, stabilitas makroekonomi menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan ekonomi di tengah dinamika saat ini. Menurutnya diperlukan pengendalian inflasi, disiplin fiskal, dan komunikasi kebijakan yang konsisten dalam menjaga stabilitas pasar.

Dari sisi pengambil kebijakan, pemerintah diperkirakan tetap berupaya menjaga defisit fiskal di bawah 3% terhadap PDB melalui pengendalian belanja, efisiensi program prioritas, dan optimalisasi penerimaan negara.

Selain itu, pemerintah perlu menjaga konsistensi penerapan kebijakan, termasuk pelaksanaan Undang-Undang Cipta Kerja dan harmonisasi regulasi pusat-daerah. Langkah ini penting untuk menciptakan kepastian usaha dan meningkatkan kepercayaan investor.

Untuk menjaga stabilitas makroekonomi, pemerintah dinilai perlu memperkuat pengendalian inflasi dan disiplin fiskal, menjaga daya beli domestik, memastikan stimulus fiskal tetap tepat sasaran dan berkelanjutan.

Sementara dari sisi pelaku usaha, disarankan mulai mengantisipasi potensi perlambatan ekonomi global pada semester kedua 2026. Dalam hal ini, kepastian dan konsistensi regulasi menjadi faktor utama dalam meningkatkan daya tarik investasi.

EV Jadi Motor Pertumbuhan RI

Head of Research DBS Indonesia, William Simadiputra, menilai ekosistem kendaraan listrik (EV), hilirisasi nikel, energi terbarukan, dan pembangunan infrastruktur, menjadi daya tarik utama investasi Indonesia.

Ia menilai, konsistensi arah kebijakan akan menjadi faktor penting dalam menjaga minat investor asing. Saat ini, kredit investasi masih tumbuh positif, terutama di sektor konstruksi, pertambangan, dan agrikultur.

"Sektor EV ecosystem, pengolahan nikel, energi terbarukan, dan infrastruktur tetap menjadi pilar kekuatan pertumbuhan. Konsistensi kebijakan hilirisasi akan menjadi magnet utama bagi investor asing di tengah ketidakpastian yang terjadi," ujar William.

Meski demikian, DBS Research menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi salah satu faktor yang paling mempengaruhi prospek ekonomi global dan Indonesia. Risiko gangguan distribusi dapat memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi domestik.

Dalam skenario dasar, harga minyak diperkirakan berada di kisaran US$ 80-85 per barel. Namun dalam skenario ekstrem, gangguan distribusi global berpotensi mendorong harga minyak melonjak hingga US$ 100-150 per barel.

Di sisi lain, pelemahan Rupiah, kenaikan harga produsen (PPI), dan risiko cuaca akibat El Nino juga menjadi faktor yang dapat meningkatkan tekanan harga dalam beberapa kuartal mendatang.

Bank Indonesia disebut akan semakin fokus menjaga stabilitas nilai tukar dan likuiditas pasar di tengah meningkatnya tekanan eksternal. Meski suku bunga acuan masih dipertahankan, arah kebijakan moneter dinilai cenderung lebih hawkish.

(kil/kil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads