BHP Billiton Dapat Restu Garap Tambang Bauksit di Malut
Selasa, 06 Nov 2007 08:24 WIB
Jakarta - Bupati Buli, Maluku Utara akhirnya memberikan restu untuk kerjasama Antam dan BHP Billiton. Kerjasama keduanya pun melenggang dengan mulus. BHP Billiton sebenarnya sudah sejak lama berminat mengembangkan bauksit di kontrak pertambangan (KP) milik Antam di Buli. Namun sesuai aturan, hal ini harus dapat izin dari pemerintah daerah. Rencananya, hari ini Bupati Buli akan menandatangani persetujuan prinsip untuk kerjasama Antam dan BHP Billiton tersebut. "Pemdanya sudah bersedia, besok (hari ini, Selasa) persetujuan prinsipnya diteken," kata Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro disela-sela pembukaan International Investment Summit di JHCC, Jakarta, Senin malam (5/11/2007). Sementara itu, Dirjen Minerbapabum Simon Sembiring menjelaskan, kerjasama Antam dan BHP bersifat melanjutkan proses produksi yang sudah dilakukan Antam di Buli. "Besok baru MoU persetujuan prinsip dengan bupati. Lalu feasibility study. Baru diajukan ke kita," kata Simon yang memberi penjelaasan lebih lanjut ketika dihubungi Purnomo. Proyek Antam dan BHP Billiton, perusahaan tambang terbesar dunia, menjadi penting karena nilai investasinya yang juga sangat besar hingga US$ 4 miliar. Kerjasama penambangan di Buli, Maluku Timur ini terbagi dua proyek, yaitu feronikel dan hydrometalurgi. Untuk proyek feronikel diperkirakan membutuhkan dana sekitar US$ 1 miliar dan hydrometalurgi diperkirakan butuh US$ 2-3 miliar. Untuk hydrometalurgi baru akan dibangun pada 2011-2012 dengan kapasitas produksi awal 60.000 ton nikel per tahun. Dan direncanakan baru beroperasi pada 2016. Semua hasil produksi kedua proyek itu akan diekspor, tidak ada yang untuk domestik. Hal ini karena tidak ada pasar yang mampu menyerap produk tersebut di dalam negeri. Saat ini Antam tengah mempersiapkan draft Joint Venture Agreement (JVA) dengan BHP Billiton. Rencananya JVA tersebut akan ditandatangani awal 2008. Setelah JVA terbentuk, akan segera dibentuk Joint Venture Company (JVC) dengan pembagian saham seimbang (50:50). Tahap selanjutnya baru bankable feasibility study.
(lih/qom)











































