Medco-Ephindo Dapat Jatah Bagi Hasil CBM 45%
Selasa, 06 Nov 2007 11:40 WIB
Jakarta - Konsorsium Medco-Ephindo mendapat bagi hasil 45% untuk pengembangan Coal Bed Methane (CBM) pertama di Indonesia. Dengan begitu pemerintah mendapat bagi hasil sebesar 55%. "Split untuk CBM saat ini 45 untuk kontraktor dan 55 untuk pemerintah. Investor sudah sepakat, tinggal menyepakati yang lainnya," kata Dirjen Migas Luluk Sumiarso dalam jumpa pers di International Investment Summit, Jakarta, Selasa (6/11/2007). Bagi hasil sebesar itu memang jauh lebih besar dibanding bagi hasil pengembangan minyak dan gas. Namun Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro menjelaskan, besarnya bagi hasil ini dikarenakan pengembangan CBM yang memang lebih sulit. Untuk pengembangan minyak, proses produksi bisa dalam tujuh tahun, gas bisa sembilan tahun. Sedangkan CBM lebih lama lagi. "Karena harus memisahkan airnya dulu," katanya. Medco-Ephindo berencana mengembangkan CBM di Sumatera Selatan. Proyek mereka merupakan kontrak CBM pertama yang siap diteken. "Kita harapkan kurang dalam sebulan bisa kita selesaikan," katanya. Selain konsorsium itu, ada 3 proposal pengembangan CBM yang tengah joint study, 6 proposal yang sedang dievaluasi, dan 33 proposal lainnya masih perlu diklarifikasi.
(lih/qom)











































