PIM Tunggu Jatah Pasokan Gas
Rabu, 07 Nov 2007 15:00 WIB
Jakarta - Produsen pupuk, PT Pupuk Iskandar Muda menunggu kepastian jatah pasokan gas untuk pengoperasian kembali 2 pabriknya pada 2008-2010. Untuk mengamankan pasokan gas pada 3 tahun di awal itu kepastian pasokan harus ada pada bulan Desember 2007.Hal tersebut disampaikan Dirut PIM Mashudianto dalam jumpa pers di kawasan Mampang, Jakarta, Rabu (7/11/2007)."Tahun 2008-2010 itu pasokan gas diambil dari sisa kontrak eskpor gas ke Jepang, oleh Exxon Mobil dan PT Arun. Pasokannya dimulai pada 1 Januari 2008," ujarnya.Kepastian yang ditunggu PT PIM adalah keputusan teknis penyaluran gas tersebut dari Exxon dan PT Arun ke PT PIM yang sedang dibahas oleh BP Migas dan Departemen ESDM.Adapun sisa kontrak eskpor gas pada tahun 2008 adalah sekitar 250 mmscfd. Tahun 2009 sebanyak 210 mmscfd, 2010 juga sebanyak 210 mmscfd."Sedangkan kebutuhan gas untuk 2 pabrik kita adalah sebesaar 110 mmscfd per tahun," ujarnya.Dengan berjalannya 2 pabrik di tahun 2008, PIM bisa memproduksi urea 1,1 juta ton per tahun. "Biasanya 75 persen untuk kebutuhan dalam negeri, sisanya buat ekspor dan tahun depan kita juga sudah bisa memperoleh laba bersih sekitar Rp 20 miliar," ujarnya.Selama tahun 2007 PIM mengalami kerugian sekitar 35 miliar. "Karena kan beban kita banyak apalagi pabrik belum sepenuhnya beroperasi, beban itu antara lain gaji pegawai, dan pembayaran beban bunga utang dalam negeri dan luar," ujarnya.Utang luar negeri antara lain ke lembaga keuangan Jepang sebesar US$ 151 juta, dan utang perbankan utang dalam negeri sebesar Rp 800 miliar."Jadi beban bunga untuk utang luar negeri Rp 10 miliar per tahun, yang dalam negeri kira-kira sama," ujarnya.Untuk pasokan gas jangka panjang, perseroan telah menandatangani head of agreement (HoA) antara PT PIM dengan PT Medco Energy International Tbk untuk pasokan gas dari Blok A yang dikelola oleh Medco."Jadi kita harapkan untuk jangka panjang pasokan gas kita terjamin, sementara untuk 2016 ke atas dan seterusnya kita sedang mengkaji konversi penggunaan batu bara menjadi gas," ujarnya.
(ddn/dnl)











































