Pertamina Siapkan Talenta Energi Masa Depan Lewat Program Goes To Campus

Pertamina Siapkan Talenta Energi Masa Depan Lewat Program Goes To Campus

Bima Bagaskara - detikFinance
Kamis, 21 Mei 2026 17:54 WIB
Pertamina Goes to Campus 2026
Foto: dok. Bima Bagaskara/detikJabar
Bandung -

Menyiapkan masa depan energi tidak cukup hanya dengan membangun kilang, jaringan distribusi, atau teknologi baru. Tantangan yang sama besarnya adalah menyiapkan sumber daya manusia yang akan menjalankannya.

Dari kesadaran itulah, Pertamina Goes to Campus (PGTC) 2026 hadir membawa industri masuk ke kampus. Program ini mempertemukan mahasiswa dengan tantangan nyata, sekaligus membuka ruang agar ide, riset, dan talenta muda tidak berhenti di ruang kelas.

Mengusung tema 'Energizing Acceleration for Future Impact', PGTC 2026 resmi dimulai di Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (21/5). Program ini bukan sekadar agenda kunjungan korporasi, melainkan upaya membangun ekosistem yang mempertemukan pendidikan tinggi dengan kebutuhan masa depan sektor energi Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi Pertamina, membangun ketahanan energi tidak hanya soal memastikan pasokan hari ini, tetapi juga menyiapkan generasi yang akan mengelola energi Indonesia di masa depan.

Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita mengatakan, program ini sebenarnya bukan inisiatif baru. Pertamina telah menjalankan pendekatan ke dunia kampus sejak awal dekade 2000-an, sebelum kemudian secara resmi dibangun menjadi identitas PGTC pada 2012.

ADVERTISEMENT

"Pertamina Goes To Campus ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh Pertamina dan sebenarnya dirintis dari awal dekade pertama tahun 2000, kemudian kita branding menjadi PGTC di 2012," ucap Arya usai kick off PGTC bersama jajaran direksi PT Pertamina, Rabu (21/5/2026).

Sejak saat itu, program tersebut terus bergerak menjangkau kampus-kampus di berbagai daerah. Menurut Arya, PGTC menjadi bagian dari strategi Pertamina untuk menghadirkan ruang belajar yang lebih dekat dengan realitas industri.

"Kegiatan ini merupakan bagian dari program yang dilaksanakan untuk menjangkau mahasiswa yang berada di kampus-kampus di seluruh Indonesia," ujarnya.

Tahun ini, PGTC dirancang dalam format roadshow ke lima kota. Setelah pembukaan di ITB, rangkaian kegiatan akan berlanjut ke sejumlah kampus lain yang saat ini masih dalam tahap finalisasi.

Ia menyebut sebagian lokasi telah mengarah ke wilayah Sumatera Barat dan Sulawesi, sementara kampus lainnya akan diumumkan kemudian. Pertamina juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan kampus yang terlibat.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi dan juga pihak dari universitas dari ITB yang telah memberikan kesempatan ini untuk kick off di kampus ini," katanya.

Ketika Industri Masuk ke Kampus

Bagi ITB, PGTC bukan hanya menghadirkan kegiatan mahasiswa, tetapi membuka jalur yang lebih luas antara pendidikan tinggi dan kebutuhan industri. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Irwan Meilano menilai ada dua manfaat utama dari kolaborasi semacam ini.

Pertama, mahasiswa mendapat kesempatan mengenal dunia industri lebih awal, sesuatu yang sering kali sulit diperoleh hanya dari proses belajar di kelas.

"Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa kita untuk mengenal industri dengan lebih baik," ungkap Irwan.

Menurut Irwan, manfaat itu juga dirasakan dosen dan sivitas akademika yang bisa melihat secara langsung bagaimana industri melakukan riset serta membuka peluang kerja sama penelitian.

Lebih jauh, mahasiswa juga mendapat kesempatan memahami kebutuhan dunia kerja sejak dini. "Mahasiswa di tahap dini dari pendidikannya sudah terekspos dengan industri. Ini akan membuka wawasan penting bagi mereka," tuturnya.

Ia menilai pengalaman tersebut dapat menjadi jembatan menuju peluang magang hingga pengalaman profesional di lingkungan Pertamina Group. Namun, manfaat yang paling strategis justru berada di balik layar, yakni soal kurikulum.

ITB menurut Irwan saat ini sedang menjajaki kerja sama dengan Pertamina untuk mendesain kurikulum yang lebih dekat dengan kebutuhan industri.

"Kita memahami bahwa sering kali tantangan industri jauh lebih cepat dari program pendidikan. Jadi mempertemukan pengelola pendidikan dengan Pertamina menjadi sangat penting karena kita bisa mendesain kurikulum bersama dengan industri," ucapnya.

Menutup Jarak antara Lulusan dan Dunia Kerja

Dukungan serupa datang dari pemerintah. Sekretaris Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Junaidi Khotib menyebut PGTC sebagai contoh konkret bagaimana kampus dan industri dapat dipertemukan dalam ruang yang lebih setara.

Menurut dia, kolaborasi semacam ini penting untuk memastikan lulusan perguruan tinggi tetap relevan dengan kebutuhan zaman.

"Ini menunjukkan ruang yang sangat lebar untuk pertemuan antara akademia dan industri," kata Junaidi.

Ia menilai kerja sama semacam ini akan memberikan manfaat besar dalam memperkuat relevansi lulusan sekaligus meningkatkan daya saing mereka.

Kementerian mendukung penuh model sinergi yang memungkinkan industri hadir lebih awal di lingkungan kampus. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi memperoleh gambaran nyata tentang kebutuhan industri, peluang karier, dan arah perkembangan sektor energi nasional.

Junaidi bahkan berharap cakupan program semacam ini bisa diperluas. "Kalau ingin banyak tentu tidak hanya lima," tegasnya.

Menurutnya, pelaksanaan di Bandung juga berpotensi menghadirkan mahasiswa dari berbagai kampus, tidak hanya peserta dari ITB. Apalagi, keterlibatan holding dan subholding Pertamina membuka ruang interaksi yang jauh lebih luas bagi mahasiswa dan akademisi.

"Sehingga ini membuka wawasan yang sangat baik untuk para mahasiswa dan juga para akademisi dengan demikian bisa bersinergis di dalam Mendukung mutu dari lulusan itu," pungkasnya.




(prf/ega)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads